Tiga Dara

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Telah lahir putri ketiga kami pada hari Sabtu 6 Februari 2021 pukul 07.44 CET. Jam lahirnya hampir bersamaan dengan mbaknya, Qonita, yg lahir di 07.45 pagi di Rumah Sakit yang sama. Putri kami ini lahir dengan Berat 4.1 Kg dengan keadaan sehat wal’afiyat.

Proses kelahirannya bisa dibilang paling lama durasinya dibanding kakak-kakaknya karena beratnya yg relatif jumbo. Kakak2nya di kisaran 3.4 Kg sedangkan dia 4.1 Kg. Ibuknya diantar bidan ke RS pada pukul 2 pagi dan baru lahir setelah 5 jam 44 menit berselang. Dulu, Qonita lahir setelah 3 jam 45 menit sampai di RS. Kalau Hafiza saya agak ahistoris, soalnya saya tidur di Canberra ketika dia lahir di Jogja. Sungguh bapak seperti apa saya ini…

Saya dan Ibuk @sari_se memberikan nama dara ketiga kami ini:

Nuha Afiya Sambodo atau bisa dipanggil Afiya.

Untuk artinya, kapan-kapan dijelaskan di post yang lain 🙂

Kelahiran Afiya merupakan kabar baik dan melegakan karena kekhwatiran kami sekeluarga atas kondisi Ibuk @sari_se yang baru seminggu yang lalu ditinggal ayahanda tercinta. Ibuknya Afiya berjuang sangat keras. Bahkan, Ia hampir menyerah dan meminta untuk operasi caesarean. Meski ngeden dengan sekuat tenaga namun kontraksinya yg kurang membuat prosesnya tidak maksimal. Untung dokter persisten hingga titik akhir dan akhirnya bisa lahir secara natural. Segala puji bagi Allah.

Kami keluarga kecil ini memohon doa restu dari Bapak, Ibu dan rekan-rekan semua agar anak kami menjadi anak yang sholehah. Dan kami orang tua, khususnya bapaknya (satu-satunya laki-laki di rumah), yg masih harus banyak belajar ini agar diberikan ilmu dan kekuatan dalam mengemban amanah tiga dara ini.

Salam hangat bersalju dari Rotterdam

– Sari, Pugo, Hafiza, Qonita, Afiya-

Pripun Prospek 2021 Kisanak?

InsyaAllah cerahhhh, nggih. Dipikir alon-alon mawon, Lurrr. Mboko siji digarap. Sek penting sehat bagas waras kabeh sakkaluwarga. Kuwi wis prestasi sing mongkokake. Prasasat nek pit-pitan, le nyetel gear rasah dhuwur-dhuwur, le medal kabotan. Stamina ra cukup. Setel kendo mawon ning ajeg, bar kuwi diundhakke mboko sithik. Nek kebanteren, di-rem, eling nek perjalananmu kui ora dhewekan 😃

Oleh karena itulah mari kita memulai Januari 2021 dengan menikmati self-made kupat sayur (gori aka nangka muda). Hangat, segerrr, renyah, gurihhhh. Semoga tahun 2021seperti itu juga 🙂

Serial ANABEL (Analisis Gembel) : Kompetitif

Menarik sekali penjelasan Kishore Mahbubani, mantan dekan Lee Kuan Yew SGPP NUS, tentang kenapa sih kok China bisa maintain nilai kematian akibat COVID-19 cukup rendah dibandingkan dengan US yang hingga hari ini memakan sekitar 280 ribu korban? Jumlah kematian di US tersebut sangat bisa dihindari apabila pemerintah US sigap menanganinya. Salah satu penjelasannya adalah karena birokrasi pemerintah China yang efektif dan efisien. China, menurut beliau, adalah negara yang sangat meritokratis untuk urusan pemilihan aparatur pemerintah. Beliau melanjutkan bahwa tingkat kompetisi untuk bisa masuk ke dalam pemerintah seperti masuk kerja konsultan ternama seperti Mckinsey atau masuk universitas di Harvard where the smartest and the brightest compete. Bukti dari kecepatan dan ketepatan kebijakan sudah kita lihat sama-sama di awal pandemi. Sekarang mereka sudah mulai bounce back (bahkan jualan vaksin) dan mulai menata perekonomiannya.


Sebaliknya, US masih tertatih-tatih dalam menghadapi COVID-19. Menurut, Kishore, dalam tiga dekade terakhir secara struktural lebih condong ke Plutocracy. Kondisi dimana yang berduitlah yang memiliki kekuatan besar dalam pengambilan keputusan publik. Sehingga pengambilan keputusan lebih banyak berpihak pada pemilik dana besar daripada wong cilik. Seems familiar? Makanya sangat aneh sekali kita melihat bahwa US yang notabene negara dengan fasilitas kesehatan yang baik dan tidak kekurangan tenaga kesehatan yang mumpuni masih saja kelimpungan menghadapi COVID-19.

Pandemi COVID-19 memberikan ujian bagi semua administrasi pemerintahan bagaimana mereka bisa bereaksi terhadap wabah dan turunan masalahnya. Ada yang berhasil ada yang tidak. Ada juga yang bilang, masyarakatnya saja yang ngeyel nggak bisa dikasih tahu. Ada enelnya uga. Perilaku masyarakat memang berpengaruh. Namun, kejelasan rencana, komunikasi yang bisa diterima,dan kelincahan pemerintah ngaruh juga ke respon masyarakat. Jika pemerintah output kebijakannya seperti business as usual atau setengah-setengah, wajar dong kalau respon rakyat biasa juga begitu. Sebagai contoh, bersumber dari lini masa twitter, negara Wakanda Bagian Tenggara menggenjot kegiatan ekonomi dengan mengirim Pi-En-Ais-nya melakukan ‘Jihad’ Penyerapan Anggaran di akhir tahun dengan melakukan perjalanan dinas yang berisiko pada kesehatan. Apakah tidak ada kebijakan lain? Ditambah lagi, makin pedih hati ini mendengar, wong cilik diminta 3M sedangkan pejabatnya dapat 17M. Kasihan sekali negara tersebut 😦


Lalu apakah negara Wakanda Bagian Tenggara tadi bisa makin kompetitif Pi-En-Ais nya? ada cerita (yang tentunya anekdotal), pasca pandemi yang menurut saya menarik. Dengan mulai bergugurannya Start-Up (s) dengan menurunnya permintaan/konsumsi barang dan jasa, maka menjadi Pi-En-Ais adalah salah satu destinasi karir yang menjanjikan pendapatan dan kepastian. Para talenta-talenta terbaik yang sebelumnya wira-wiri di perusahaan swasta mentereng dimana dia bisa ke kantor berkonsep open space dengan berkaos, sekarang ancang-ancang mulai melirik untuk bisa berseragam PDH atau safari 😀 Bagi facebooker di Wakada Bagian Tenggara yang umurnya belum mencapai 35 tahun, masih ada peluang gan! Anda bisa menjadi bagian dari perubahan struktural. Makin banyak pemuda-pemuda kompetitif dan bagus inputnya menjadi Pi-En-Ais semoga dikit-demi sedikit kebijakan menghadapi pandemi lebih baik. COVID-19 bukan yang pertama dan tentu saja bukan yang terakhir.


Solusinya ke depan? Namanya juga Anabel, mohon maaf nggak ada solusi ya gan, cuman mau cerita aja 😀

Memulai GOVLOG: Gowes Njuk Nge-Vlog

Masa Pandemi ini adalah saat mencoba hal yang baru. Sebelumnya, di channel YouTube, saya lebih nyaman hanya mengupload video gambar-gambar, tanpa wajah saya ngomong. Nggak pede di depan kamera 😀 Kok insyekyur banget. Hehehe. Akhirnya saya coba beranikan diri untuk membuat channel dimana saya banyak memberikan narasi dan ngobrol.

Takterasa sudah sekitar 8 bulan pandemi, dan saya baru sadar kalau sudah lama tidak pernah berbicara kepada publik. Ini tidak baik untuk persiapan defense disertasi saya nanti (padahal defense kapan juga belum tahu :D). Makanya melatih bicara di depan kamera sepertinya penting. Apalagi nanti kalau sudah banyak undangan untuk jadi analis di layar kaca. wkwkwk. Wis le ngimpi rasah kesuwen. Nglindur ae. Saya sertakan link Yutub-nya di bawah ya. Mohon bersabar, masih pemula 😀

Pulang Duluan

Sebulan yang lalu saya diberi kesempatan mencoba Gazelle Tour Populair 57 Damesfiets. Sepeda onthel yang mengangkat semangat klasik namun dengan spek modern ini memang yahud. Setelah mencoba sekali jalan sekitar 8 Km, saya bisa bilang sepeda ini adalah sepeda paling enak dan pas dipakai buat saya.

Dari segi handle, suspensi, pedalan dan lain-lain enakkk banget. Tapi perasaan saya ini bisa jadi karena baru nyoba sedikit jenis sepeda. Spektrumnya kurang luas. Maklum mahasiswa. Hehe. Saya seneng pakai yang Dames (ladies) karena kalau yg Heren (gentleman) sering terlalu tinggi plantangan-nya 😀


Nhaaa… sayangnya, sepeda ini harus pulang duluan naik kapal ke Indonesia mendahului empunya, taklain takbukan untuk diniagakan di tempat lain. Seenak-enaknya sepeda, kalah sama tabungan buat SPP sekolah anak 😀

Ikan hiu makan keju. See U 🙂

#FietsReview #SayangAnak

Mas Asdos

Dulu ketika masih semester-semester awal kuliah, saya selalu menganggap asisten dosen adalah mahasiswa dengan tingkat kecerdasan dan kepintaran di atas rata-rata. IPK pasti langitan. Kalau nggak, masak sih Dosen mau hire? Anggapan ini lalu berubah setelah negeri api menyerang. Saya akhirnya jadi asisten dosen, bukan karena pinter, tapi kok ya pas Dosen tersebut sedang butuh dan para kandidat yg IPK nya tinggi-tinggi sedang KKN (Bukan di desa penari lho. Hehe). Jadi kandidatnya tinggal saya. Tapi, di posting ini saya tidak mau cerita tentang itu. Saya mau cerita tentang mas di sebelah saya ini. Mas Anthony.

Kala itu saya ambil mata kuliah Ekonometrika 1. Sebagai anak IPS, subjek yg ada ika-ikanya terasa berat buat saya. Alhamdulillah, Dosennya sangat amat baik mengantarkan kuliah sehingga mahasiswa semangat. Yaiyadong, FEB UGM gitu lho. Hehe. Salah satu sesi kuliah ini menghadirkan kuliah tamu seorang Professor dari US. Prof ini salah satu tim yg bikin software Ekonometrika Gretl. Saya lupa isi sesi itu, yang saya perhatikan prof tersebut ditemani dua asisten dosen. Mas Anthony dan Mas Said Fathurohman (sekarang dosen di UNAIR). Saya menggumam dalam hati melihat mas Thony dan mas Said, wah enak ya jadi asisten dosen, dekat dengan lingkungan akademik dan sumber ilmu. Kayaknya keren gitu 🙂

Entah bagaimana ceritanya, saya yang SKSD bisa kenal dengan mas Anthony dan suatu waktu pernah meng”grebek” (pakai bahasa Atta geledek) pengen tahu apa sih yang dilakukan seorang asisten dosen. Ternyata dari cerita beliau pekerjaannya bisa A sampai Z. Sebagai contoh, waktu itu Mas Anthony diminta membuat resume buku-buku terbaru, yang kemudian bisa dipajang di Perpustakaan. Bu Dosen pengen, mahasiswa-mahasiswa update dengan literatur terkini. Saya diminta bantuin, eh ternyata malah ngrecokin dan banyak nanya karena semua teks dalam bahasa Inggris. TOEFL saya yang cuman 430 tidak banyak membantu 😀

Fast forward, sekarang mas Anthony ternyata tidak mengambil jalur sebagai akademisi. Padahal saya kira bakalan jadi dosen 😀 Saat ini mas Anthony berprofesi sebagai entrepreneur sukses. Justru, keputusan yang diambil menurut beliau mengamalkan Ilmu Ekonomi. “Lah, sakikiy taktakoni, nek dewe sekolah terus duwur-duwur (katakanlah kuwi x) lalu apakah output e (y) akan naik? Lak yho durung mesti tho???” Saya cuman bisa mesem-mesem “Benerrrrr jenengan massss 😀 ”

Pagi hari saat itu sejuk. Pertemuan yang sudah lama tidak terjadi itu menjadi ajang jual-beli cerita dan gosip 😀 Dasar lidah surplus, lambe turah. Ditemani dengan nasi uduk lauk aneka rupa, taklupa kopi hangat menjadikan diskusi takterasa. Biar tidak mengentek-entekkan makanan, saya pamitan karena sorenya harus balik ke Rotterdam. Sampai ketemu lagi Mas Asdos! 🙂

Rotterdam, 16 September 2019

Catatan Hati Seorang Cleaner #2

mas catur

Kemarin cleaner kantoran dengan cleaner sekolahan reuni. Mereka sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu. Mereka ditemani seorang pejabat kementrian perdagangan.

Dalam sebuah chat, sebelum ketemu, sang cleaner kantoran mem-bully cleaner sekolahan dengan kalimat: “resiki sak sekolahan mung 4 jam, kerjo opo bunuh diri yo”. Cleaner sekolahan hanya bisa menjawab “Luwih tepatnya diplekotho!”. “Ning doyan ” si cleaner elit menimpali. “iya juga sih” gumam cleaner kroco dalam hati.

Di Australia, para student … eh cleaner Indonesia (ups), sangat disukai oleh boss-boss atau klien penyewa jasa kebersihan. Klien mereka bisa rumah pribadi, sekolah, perkantoran, kampus universitas dan pertokoan. Para pejuang kebersihan Indonesia terkenal lebih tidak suka complain (di depan boss, entah bergunjing di belakang hehe), tepat waktu dan kerjanya bersih. Intinya penurut  Value ini tidak ada pada para pekerja dari asia timur dan asia selatan. Tahulah darimana.

Setelah para veteran cleaner OZ ini bertemu, obrolan tidak jauh-jauh tentang bebersih. Saya baru tahu bahwa senior saya satu ini juga mengalami perasaan yg sama ketika melihat toilet di kantor atau kampus yg kurang bersih. Kaca penuh debu. Mold di cermin. Wastafel yg tidak kinclong. Tissue toilet habis. Kayak gatel pengen untuk ngerjain. Ada rasa berkecamuk dalam hati. Menggumam, “Sini mas saya aja yg ngerjain” Atau “chemical-nya kurang nih!” Belagu bet yak. Syndrome ini sepertinya belum ada nama. Ada usul?

Selain bercerita pahit dan getir selama menjadi aktivis kebersihan, kita juga membahas pendapatan. Cleaner sekolahan menjadi minder karena cleaner kantoran memiliki superannuation sangat tinggi. Jika superannuation segitu gede, maka berapa totalnya! Duh, jadi pengen balik ke OZ. Haha. Tapi juga ada kabar kurang menggembirakan, perusahaan tempat sang cleaner kantoran sekarang sudah gulung tikar. Padahal dulu bisa banyak menyerap tenaga kerja kita.

Kami berharap semoga keunggulan komparatif para cleaner Indonesia bisa ditingkatkan. Bahkan jika perlu, kita membuka company di OZ agar bisa mengurangi defisit current account kita yg semakin menganga. Semoga 

Jakarta, 30 May 2019

signature-pugo

 

Singgahan Pertama

mufti
Beberapa grup WA di Belanda mengabarkan bahwa sebagian mahasiswa yang menjalani studi pada tahun-tahun belakangan mengalami kesulitan mencari akomodasi permanen atau sementara. Dulu saya termasuk diantara golongan mahasiswa tersebut. Pada 5 Oktober 2016 saya menginjakkan kaki di tanah para Meneer dan Mevrouw tanpa akomodasi permanen. Beginilah nasib orang yg tidak mencari akomodasi jauh-jauh hari, dan kebanyakan nggak bisa bayar karena keluarga kami nggak punya kartu kredit 

Alhamdulillah. Ada rekan satu Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP 70 bersedia menolong saya. Beliau berkenan membuka pintu agar bisa numpang sementara di kamarnya. Saat itu memang belum memasuki winter, tapi pemuda tropis ini sudah tidak tahan dengan angin dingin Rotterdam. Dinginnya angin aja nggak kuat, apalagi dinginnya sikapmu #eaaa. Saya tinggal di kamar tersebut satu malam sebelum kemudian pindah lagi ke akomodasi sementara (lagi). Seblum saya mendapat rumah yg saya dan keluarga huni sekarang, saya pindah rumah/kamar sebanyak lima kali. Membawa tiga koper kemana-mana, apalagi kalau naik tangga tipikal rumah Belanda yg berkemiringan 85 derajat. Lantai 3. Tanpa lift. Beuhhh.

Singgahan pertama ini di benua biru tidak akan saya lupakan, dan saya berusaha pay forward jika memungkinkan. Saya berpendapat seseorang jika memiliki tempat berteduh dan menghangatkan diri akan bisa berpikir dengan jernih, merasa secure dan siap menjalani tantangan hidup ke depan.

Kemarin saya akhirnya bisa silaturahmi dengan tuan rumah. Pemuda harapan bangsa seorang analis ekonomi di lembaga riset ekonomi ternama di Indonesia. Mas @muftifaisal. Saya belajar banyak lagi tentang kondisi makroekonomi. Banyak yg lupa euy.

Bagi rekan-rekan yg akan datang ke Belanda dan sedang mencari singgahan pertama, semoga segera mendapatkan titik terang dan kabar baik 

Jakarta, 27 May 2019

signature-pugo

KMF. Konco Monetary Fund. 

mas_Afi

Hidup di perantauan apalagi di luar negeri membutuhkan teman yg saling membantu. Para WNI yg tinggal di mancanegara, atau Diaspora meminjam istilah anak Jaksel, pun juga begitu. Mereka harus tulung tinulung dalam masa-masa sulit. Apalagi dalam hal finansial alias duit.

Hal itu terjadi pada saya di awal kedatangan saya di negeri van Oranje. Saya kesusahan untuk mendapatkan akomodasi hampir selama tiga bulan. Saya sangat menyesal tidak mencari jauh-jauh hari rumah yg akan saya tinggali. Awalnya pengen cari tempat singgah sementara tapi ternyata banyak landlord yg tidak mau, kontrak minimal dalam satu tahun. Itupun juga sulit dengan budget saya yg nggak masuk. Yang masyuk cuman Pak Eko. 

Dalam apply akomodasipun ada beauty contest dalam hal finansial karena pendaftarnya banyak. Misalnya, pendapatan per bulan dan jumlah tabungan di rekening sebagai indikator pelamar bisa bayar biaya rental bulanan. Nah, masalahnya tabungan saya dalam bentuk Euro tidaklah banyak. Ia hanya cukup satu bulan impor #halah. Jika jumlah saldo di tabungan kurang meyakinkan maka dia sulit diterima lamarannya oleh landlord. Landlord dah kayak calon mertua kan? hehe

Alhamdulillah, dalam batch kedatangan saya ada konco wong Semarang bernama mas Dwi Afianto atau biasa dipanggil mas Afi. Pria lulusan SMA 3 Semarang dan STAN ini berkenan memberikan bantuan tanpa bunga pada saya agar rekening tabungan saya minimal keliatan wangun bin layak lah jika dilihat sama Landlord. Dan nggak saya belanjakan juga sih. Alhamdulillah, setelah 3 bulan pencarian aplikasi saya diterima landlord. Rumah itu hingga dua tahun ini saya tinggali. Saya dibantu oleh dana pertemanan alias Konco Monetary Fund.

Saat ini mas Afi sekeluarga sudah back for good ke Indonesia. Thesis beliau mendapatkan nilai 9. Raihan yg jarang dicapai student Indonesia bahkan mahasiswa bule. Foto ini diambil hari kamis pekan kemarin sebelum pagi nya harus kembali ke Indonesia untuk mengabdi di Dirjen Pajak dan mbak Lia mengembangkan bisnis kateringnya. Matur nuwun mas Afi! 

Note: KMF juga bisa berarti nama acara kumpul-kumpul Kagama di Netherlands. Kumpul. Mangan. Foto.

Rotterdam, 6 September 2018

signature-pugo

Pencitraan

mbakChikuSekeluarga

Pencitraan itu kadang perlu. Terutama untuk mengubah perilaku. Contohnya adalah gubuk lusuh kami di pinggiran rel stasiun metro Zuidplein. Pada hari-hari biasa, rumah berantakan. Cucian kemana-mana. Pemean alias jemuran malang melintang. Dapur tiada aturan. Semua itu akan berubah jika ada tamu yang akan datang. hehe. Ruang tamu bersih tiada pakaian berhamburan. Dapur pun bersih. Mengejutkan. Entah darimana energi bersih-bersih itu berasal   Tapi kami seneng kok jika ada tamu. Kata pak Ustadz, saling berkunjung itu memperpanjang rezeki dan umur.

Alhamdulillah, akhir pekan lalu kedatangan tamu dari Bonn Germany. Mbak Retno yg biasa dipanggil mbak Chiku beserta mas Radit dan putri imutnya Zahra (18 m) main ke Rotterdam. Mbak Chiku ini yg banyak menginspirasi kami dalam sekolah luar negeri. Sudah tidak terhitung jumlah negara yg beliau kunjungi. Saya dan Sari belum ada apa-apanya. Nah, essay dan proposal LPDP mbak chiku pulalah yg saya liat-liat sebagai referensi sebelum submit dulu. Banyak posting beliau di blog juga sangat membantu. Alhamdulillah, diterima. Terimakasih atas inspirasi dan sharingnya mbak Chiku dan mas Radit. Semoga selalu terjalin silaturahmi.

Buat temen-temen yang mau main. Monggo. Biar kami sering pencitraan dan rumah bersih 

 

Rotterdam, 4 September 2018

signature-pugo