Memulai GOVLOG: Gowes Njuk Nge-Vlog

Masa Pandemi ini adalah saat mencoba hal yang baru. Sebelumnya, di channel YouTube, saya lebih nyaman hanya mengupload video gambar-gambar, tanpa wajah saya ngomong. Nggak pede di depan kamera 😀 Kok insyekyur banget. Hehehe. Akhirnya saya coba beranikan diri untuk membuat channel dimana saya banyak memberikan narasi dan ngobrol.

Takterasa sudah sekitar 8 bulan pandemi, dan saya baru sadar kalau sudah lama tidak pernah berbicara kepada publik. Ini tidak baik untuk persiapan defense disertasi saya nanti (padahal defense kapan juga belum tahu :D). Makanya melatih bicara di depan kamera sepertinya penting. Apalagi nanti kalau sudah banyak undangan untuk jadi analis di layar kaca. wkwkwk. Wis le ngimpi rasah kesuwen. Nglindur ae. Saya sertakan link Yutub-nya di bawah ya. Mohon bersabar, masih pemula 😀

Pulang Duluan

Sebulan yang lalu saya diberi kesempatan mencoba Gazelle Tour Populair 57 Damesfiets. Sepeda onthel yang mengangkat semangat klasik namun dengan spek modern ini memang yahud. Setelah mencoba sekali jalan sekitar 8 Km, saya bisa bilang sepeda ini adalah sepeda paling enak dan pas dipakai buat saya.

Dari segi handle, suspensi, pedalan dan lain-lain enakkk banget. Tapi perasaan saya ini bisa jadi karena baru nyoba sedikit jenis sepeda. Spektrumnya kurang luas. Maklum mahasiswa. Hehe. Saya seneng pakai yang Dames (ladies) karena kalau yg Heren (gentleman) sering terlalu tinggi plantangan-nya 😀


Nhaaa… sayangnya, sepeda ini harus pulang duluan naik kapal ke Indonesia mendahului empunya, taklain takbukan untuk diniagakan di tempat lain. Seenak-enaknya sepeda, kalah sama tabungan buat SPP sekolah anak 😀

Ikan hiu makan keju. See U 🙂

#FietsReview #SayangAnak

Mas Asdos

Dulu ketika masih semester-semester awal kuliah, saya selalu menganggap asisten dosen adalah mahasiswa dengan tingkat kecerdasan dan kepintaran di atas rata-rata. IPK pasti langitan. Kalau nggak, masak sih Dosen mau hire? Anggapan ini lalu berubah setelah negeri api menyerang. Saya akhirnya jadi asisten dosen, bukan karena pinter, tapi kok ya pas Dosen tersebut sedang butuh dan para kandidat yg IPK nya tinggi-tinggi sedang KKN (Bukan di desa penari lho. Hehe). Jadi kandidatnya tinggal saya. Tapi, di posting ini saya tidak mau cerita tentang itu. Saya mau cerita tentang mas di sebelah saya ini. Mas Anthony.

Kala itu saya ambil mata kuliah Ekonometrika 1. Sebagai anak IPS, subjek yg ada ika-ikanya terasa berat buat saya. Alhamdulillah, Dosennya sangat amat baik mengantarkan kuliah sehingga mahasiswa semangat. Yaiyadong, FEB UGM gitu lho. Hehe. Salah satu sesi kuliah ini menghadirkan kuliah tamu seorang Professor dari US. Prof ini salah satu tim yg bikin software Ekonometrika Gretl. Saya lupa isi sesi itu, yang saya perhatikan prof tersebut ditemani dua asisten dosen. Mas Anthony dan Mas Said Fathurohman (sekarang dosen di UNAIR). Saya menggumam dalam hati melihat mas Thony dan mas Said, wah enak ya jadi asisten dosen, dekat dengan lingkungan akademik dan sumber ilmu. Kayaknya keren gitu 🙂

Entah bagaimana ceritanya, saya yang SKSD bisa kenal dengan mas Anthony dan suatu waktu pernah meng”grebek” (pakai bahasa Atta geledek) pengen tahu apa sih yang dilakukan seorang asisten dosen. Ternyata dari cerita beliau pekerjaannya bisa A sampai Z. Sebagai contoh, waktu itu Mas Anthony diminta membuat resume buku-buku terbaru, yang kemudian bisa dipajang di Perpustakaan. Bu Dosen pengen, mahasiswa-mahasiswa update dengan literatur terkini. Saya diminta bantuin, eh ternyata malah ngrecokin dan banyak nanya karena semua teks dalam bahasa Inggris. TOEFL saya yang cuman 430 tidak banyak membantu 😀

Fast forward, sekarang mas Anthony ternyata tidak mengambil jalur sebagai akademisi. Padahal saya kira bakalan jadi dosen 😀 Saat ini mas Anthony berprofesi sebagai entrepreneur sukses. Justru, keputusan yang diambil menurut beliau mengamalkan Ilmu Ekonomi. “Lah, sakikiy taktakoni, nek dewe sekolah terus duwur-duwur (katakanlah kuwi x) lalu apakah output e (y) akan naik? Lak yho durung mesti tho???” Saya cuman bisa mesem-mesem “Benerrrrr jenengan massss 😀 ”

Pagi hari saat itu sejuk. Pertemuan yang sudah lama tidak terjadi itu menjadi ajang jual-beli cerita dan gosip 😀 Dasar lidah surplus, lambe turah. Ditemani dengan nasi uduk lauk aneka rupa, taklupa kopi hangat menjadikan diskusi takterasa. Biar tidak mengentek-entekkan makanan, saya pamitan karena sorenya harus balik ke Rotterdam. Sampai ketemu lagi Mas Asdos! 🙂

Rotterdam, 16 September 2019

Catatan Hati Seorang Cleaner #2

mas catur

Kemarin cleaner kantoran dengan cleaner sekolahan reuni. Mereka sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu. Mereka ditemani seorang pejabat kementrian perdagangan.

Dalam sebuah chat, sebelum ketemu, sang cleaner kantoran mem-bully cleaner sekolahan dengan kalimat: “resiki sak sekolahan mung 4 jam, kerjo opo bunuh diri yo”. Cleaner sekolahan hanya bisa menjawab “Luwih tepatnya diplekotho!”. “Ning doyan ” si cleaner elit menimpali. “iya juga sih” gumam cleaner kroco dalam hati.

Di Australia, para student … eh cleaner Indonesia (ups), sangat disukai oleh boss-boss atau klien penyewa jasa kebersihan. Klien mereka bisa rumah pribadi, sekolah, perkantoran, kampus universitas dan pertokoan. Para pejuang kebersihan Indonesia terkenal lebih tidak suka complain (di depan boss, entah bergunjing di belakang hehe), tepat waktu dan kerjanya bersih. Intinya penurut  Value ini tidak ada pada para pekerja dari asia timur dan asia selatan. Tahulah darimana.

Setelah para veteran cleaner OZ ini bertemu, obrolan tidak jauh-jauh tentang bebersih. Saya baru tahu bahwa senior saya satu ini juga mengalami perasaan yg sama ketika melihat toilet di kantor atau kampus yg kurang bersih. Kaca penuh debu. Mold di cermin. Wastafel yg tidak kinclong. Tissue toilet habis. Kayak gatel pengen untuk ngerjain. Ada rasa berkecamuk dalam hati. Menggumam, “Sini mas saya aja yg ngerjain” Atau “chemical-nya kurang nih!” Belagu bet yak. Syndrome ini sepertinya belum ada nama. Ada usul?

Selain bercerita pahit dan getir selama menjadi aktivis kebersihan, kita juga membahas pendapatan. Cleaner sekolahan menjadi minder karena cleaner kantoran memiliki superannuation sangat tinggi. Jika superannuation segitu gede, maka berapa totalnya! Duh, jadi pengen balik ke OZ. Haha. Tapi juga ada kabar kurang menggembirakan, perusahaan tempat sang cleaner kantoran sekarang sudah gulung tikar. Padahal dulu bisa banyak menyerap tenaga kerja kita.

Kami berharap semoga keunggulan komparatif para cleaner Indonesia bisa ditingkatkan. Bahkan jika perlu, kita membuka company di OZ agar bisa mengurangi defisit current account kita yg semakin menganga. Semoga 

Jakarta, 30 May 2019

signature-pugo

 

Singgahan Pertama

mufti
Beberapa grup WA di Belanda mengabarkan bahwa sebagian mahasiswa yang menjalani studi pada tahun-tahun belakangan mengalami kesulitan mencari akomodasi permanen atau sementara. Dulu saya termasuk diantara golongan mahasiswa tersebut. Pada 5 Oktober 2016 saya menginjakkan kaki di tanah para Meneer dan Mevrouw tanpa akomodasi permanen. Beginilah nasib orang yg tidak mencari akomodasi jauh-jauh hari, dan kebanyakan nggak bisa bayar karena keluarga kami nggak punya kartu kredit 

Alhamdulillah. Ada rekan satu Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP 70 bersedia menolong saya. Beliau berkenan membuka pintu agar bisa numpang sementara di kamarnya. Saat itu memang belum memasuki winter, tapi pemuda tropis ini sudah tidak tahan dengan angin dingin Rotterdam. Dinginnya angin aja nggak kuat, apalagi dinginnya sikapmu #eaaa. Saya tinggal di kamar tersebut satu malam sebelum kemudian pindah lagi ke akomodasi sementara (lagi). Seblum saya mendapat rumah yg saya dan keluarga huni sekarang, saya pindah rumah/kamar sebanyak lima kali. Membawa tiga koper kemana-mana, apalagi kalau naik tangga tipikal rumah Belanda yg berkemiringan 85 derajat. Lantai 3. Tanpa lift. Beuhhh.

Singgahan pertama ini di benua biru tidak akan saya lupakan, dan saya berusaha pay forward jika memungkinkan. Saya berpendapat seseorang jika memiliki tempat berteduh dan menghangatkan diri akan bisa berpikir dengan jernih, merasa secure dan siap menjalani tantangan hidup ke depan.

Kemarin saya akhirnya bisa silaturahmi dengan tuan rumah. Pemuda harapan bangsa seorang analis ekonomi di lembaga riset ekonomi ternama di Indonesia. Mas @muftifaisal. Saya belajar banyak lagi tentang kondisi makroekonomi. Banyak yg lupa euy.

Bagi rekan-rekan yg akan datang ke Belanda dan sedang mencari singgahan pertama, semoga segera mendapatkan titik terang dan kabar baik 

Jakarta, 27 May 2019

signature-pugo

KMF. Konco Monetary Fund. 

mas_Afi

Hidup di perantauan apalagi di luar negeri membutuhkan teman yg saling membantu. Para WNI yg tinggal di mancanegara, atau Diaspora meminjam istilah anak Jaksel, pun juga begitu. Mereka harus tulung tinulung dalam masa-masa sulit. Apalagi dalam hal finansial alias duit.

Hal itu terjadi pada saya di awal kedatangan saya di negeri van Oranje. Saya kesusahan untuk mendapatkan akomodasi hampir selama tiga bulan. Saya sangat menyesal tidak mencari jauh-jauh hari rumah yg akan saya tinggali. Awalnya pengen cari tempat singgah sementara tapi ternyata banyak landlord yg tidak mau, kontrak minimal dalam satu tahun. Itupun juga sulit dengan budget saya yg nggak masuk. Yang masyuk cuman Pak Eko. 

Dalam apply akomodasipun ada beauty contest dalam hal finansial karena pendaftarnya banyak. Misalnya, pendapatan per bulan dan jumlah tabungan di rekening sebagai indikator pelamar bisa bayar biaya rental bulanan. Nah, masalahnya tabungan saya dalam bentuk Euro tidaklah banyak. Ia hanya cukup satu bulan impor #halah. Jika jumlah saldo di tabungan kurang meyakinkan maka dia sulit diterima lamarannya oleh landlord. Landlord dah kayak calon mertua kan? hehe

Alhamdulillah, dalam batch kedatangan saya ada konco wong Semarang bernama mas Dwi Afianto atau biasa dipanggil mas Afi. Pria lulusan SMA 3 Semarang dan STAN ini berkenan memberikan bantuan tanpa bunga pada saya agar rekening tabungan saya minimal keliatan wangun bin layak lah jika dilihat sama Landlord. Dan nggak saya belanjakan juga sih. Alhamdulillah, setelah 3 bulan pencarian aplikasi saya diterima landlord. Rumah itu hingga dua tahun ini saya tinggali. Saya dibantu oleh dana pertemanan alias Konco Monetary Fund.

Saat ini mas Afi sekeluarga sudah back for good ke Indonesia. Thesis beliau mendapatkan nilai 9. Raihan yg jarang dicapai student Indonesia bahkan mahasiswa bule. Foto ini diambil hari kamis pekan kemarin sebelum pagi nya harus kembali ke Indonesia untuk mengabdi di Dirjen Pajak dan mbak Lia mengembangkan bisnis kateringnya. Matur nuwun mas Afi! 

Note: KMF juga bisa berarti nama acara kumpul-kumpul Kagama di Netherlands. Kumpul. Mangan. Foto.

Rotterdam, 6 September 2018

signature-pugo

Pencitraan

mbakChikuSekeluarga

Pencitraan itu kadang perlu. Terutama untuk mengubah perilaku. Contohnya adalah gubuk lusuh kami di pinggiran rel stasiun metro Zuidplein. Pada hari-hari biasa, rumah berantakan. Cucian kemana-mana. Pemean alias jemuran malang melintang. Dapur tiada aturan. Semua itu akan berubah jika ada tamu yang akan datang. hehe. Ruang tamu bersih tiada pakaian berhamburan. Dapur pun bersih. Mengejutkan. Entah darimana energi bersih-bersih itu berasal   Tapi kami seneng kok jika ada tamu. Kata pak Ustadz, saling berkunjung itu memperpanjang rezeki dan umur.

Alhamdulillah, akhir pekan lalu kedatangan tamu dari Bonn Germany. Mbak Retno yg biasa dipanggil mbak Chiku beserta mas Radit dan putri imutnya Zahra (18 m) main ke Rotterdam. Mbak Chiku ini yg banyak menginspirasi kami dalam sekolah luar negeri. Sudah tidak terhitung jumlah negara yg beliau kunjungi. Saya dan Sari belum ada apa-apanya. Nah, essay dan proposal LPDP mbak chiku pulalah yg saya liat-liat sebagai referensi sebelum submit dulu. Banyak posting beliau di blog juga sangat membantu. Alhamdulillah, diterima. Terimakasih atas inspirasi dan sharingnya mbak Chiku dan mas Radit. Semoga selalu terjalin silaturahmi.

Buat temen-temen yang mau main. Monggo. Biar kami sering pencitraan dan rumah bersih 

 

Rotterdam, 4 September 2018

signature-pugo

Paradoks Waktu Luang (Catatan Hati Seorang Cleaner)

forde_canberra_school

Jika tidak salah hitung, kira-kira sudah hampir empat bulan saya menjalani profesi sebagai Teaching Assistant di sebuah sekolah dasar katolik di Canberra. Keren bukan, judulnya aja teaching assistant. Padahallll tupoksi alias tugas pokok dan aksinya adalah: membuang sampah, vacuum, ngepel, bersihin toilet, ngelap kaca dan lain sebagainya. hehehe. Aku memang membantu guru sebelum mereka mengajar namun dengan cara membersihkan kelas sehingga bersih dan nyaman 😀

Tidak hanya semakin sehat dan gesit karena banyak bergerak, ada banyak manfaat selama saya menjadi ‘teaching assistant’. Selama empat bulan sebagai tukang bersih-bersih akhirnya bisa membeli urunan sama istri untuk tiket pulang kampung pada bulan Juni 2014.

Pun selain itu ada  banyak pengalaman berharga yang bisa diambil salah satunya tentang paradoks waktu.  Dalam kurun waktu empat bulan tersebut saya mulai bisa mempelajari pola kerja dan waktu yang perlu saya habiskan untuk mengerjakan tugas. Satu yang menurut saya paradoks adalah setiap saya berangkat lebih awal dalam bekerja. Saya yang biasa bekerja mulai jam 4 sore dan selesai 8 malam, kemudian mencoba mulai jam 15.30 karena sekolah selesai jam 15.00. saya merasa bahwa saya akan cepat selesainya. Tapi nyatanya tidak. Saya pulang malah ngelewati jam yang ditentukan. Misal jatahnya selesai empat jam, saya selalu kelebihan 15-30 menit. What a waste. Karena toh saya tidak digaji kelebihan 15-30 menit tadi.

Setelah saya evaluasi, ketika merasa waktu lebih panjang, ada kecenderungan saya menjadi tidak disiplin. Satu pekerjaan yang biasanya cepat selesai misalnya 10 menit jadi 11-12 menit. Kok ya ndilalahnya, itu merembet pada tugas-tugas yang lain. Makanya, jika dijumlahkan tambahan 1-2 menit tiap pekerjaan, tumpukan keterlambatan menjadi banyak.  Hal ini juga berlaku pula untuk persiapan ujian final mikro/makro/ekonometrika beserta tugas-tugasnya 😀

Dalam hidup pun, sebenarnya kita menghadapi hal yang sama. Awalnya menganggap bahwa waktu kita masih banyak, tapi kok tambahnya usia jadi makin cepet ya?  Pun sekarang dah beristri dah punya anak lagi (sambil ngaca). Peran dan tanggung jawab kita bertambah, baik untuk kehidupan pribadi, keluarga, sosial. Video abstraksi dari ceramah Nouman Ali Khan tentang Surah Al-Ashr di bawah ini sangat relevan dalam pembahasan kita. Betul-betul nasihat buat saya pribad: “Hati-hati dengan waktu luangmu”.

#verylatepost

 

signature-pugo

Dimana Tempat Shalat Jum’at di ANU?

Posting kali ini didasari dari pengalaman saya mencari Jama’ah Shalat Jum’at untuk pertama kalinya di kampus Australian National University (ANU). Saat itu saya coba nyari-nyari di google dengan kata kunci “shalat jumat di ANU”.  Akhirnya,  nemu beberapa link seperti punya: Pak  Uded Rajo Bagindo dan Pak  Nico Andrianto. 

Meskipun begitu ada beberapa hal yang mungkin bisa saya tambahi biar lengkap dari dua tulisan tersebut. Saya pun berinisiatif, kali aja ada calon MABA (Mahasiswa Baru) ANU  yang juga nyari jamaah shalat Jum’at.  Jujur saja, ketika saya tersesat saat pertama kali shalat Jum’at setelah menginjakkan kaki di Canberra (Australia). Dannn telat tinggal shalat doang nggak kebagian ceramah itupun lari-lari karena kudet alias kurang update. Jadi, semoga ada yang membaca blog ini besok-besok nggak telat dan bingung mau Jum’atan dimana. Aamiin 🙂

Saya menulis ini juga karena kangen yang membuncah untuk bisa memahami kutbah Jum’at. Di Belanda, para pelajar susah mendapatkan shalat jumat dengan bahasa Indonesia (yaiyalah) atau Inggris. Biasanya kalau tidak bahasa Arab, Turki dan Belanda. Dan kondisi ini sudah ane jalan satu tahun bang! 😀 Perasaan kami-kami ini ketika jum’atan susah diungkapkan.  Gimana nggak kangen tuh denger “Jamaah Masjid Kampus UGM yang dirahmati oleh Allah…” atau “Dear brother ….”. Untuk Jum’atan di Belanda Kapan-kapan ane tulis di post yang lain ya gaes 🙂

OK, jadi kemana kalau mau shalat Jum’at di ANU?

#1 Sporsthall ANU (link gmaps)

sporthall

Mahasiswa Muslim di ANU cukup beruntung difasilitasi tempat untuk jumat di dalam lingkungan kampus. Waktu itu periode 2013-2015, kalau nggak salah ada sekitar 400an muslim di kampus ANU . Untuk mengakomodasi kebutuhan ruhani mereka itulah kemudian kampus mengijinkan menggunakan ANU sportshall untuk Friday Prayer. Mereka yang mau sewa lapangan buat basket atau futsal bisa setelahnya. Kadang belum selesai shalat-nya, sudah ada mahasiswa yang nyewa sudah siap-siap basket.  Sportshall ini yang menjadi tempat reguler, misal ada acara atau exam di ruangan tersebut maka tempat shalat jumat kita akan pindah di DOJO  atau ke Mushola ANUMA.

pengumuman

Contoh pengumuman pindah tempat Jum’atan. Source: Muslim Students’ Association ANU

Waktu penyelenggaraannya kisarannya di Jam 13.00. So, jika teman-teman mau njadwal kuliah ada baiknya diatur ambil kuliahnya nggak nabrak jam tersebut. Jikapun nabrak minimal masih bisa nelat tapi nggak jauh-jauh amat 😛 Alhamdulillah selama kuliah belum nemu jadwal kuliah ama ujian nabrak dengan Shalat Jum’at.  Terkait dengan waktu ada broadcast sms untuk tempat penyelenggaraan shalat jumat atau ada pengumuman di FB-nya ANUMA bisa di-cek disini. Sayangnya, kayaknya jarang update. Tapi langganan SMS broadcast itu yang sepertinya penting, saya dah pernah coba tapi gagal, akhirnya mengandalkan nanya temen-temen yang kiranya lebih sholeh. hehe.

Jika waktu tidak menjadi masalah, yang menjadi problem buat ane saat itu adalah gedung kuliah ane di Crawford dengan sportshall lumayannnn jauhhh jika jalan, gan. Butuh sekitar 10-15 menit.  Makanya sangat disarankan punya sepeda, masbro. Kalau agak pinter cari parkiran  gratisan atau nggak masalah bayar parkir bisa bawa mobil, boss. Hanya 2 dolar AUD per jam biasanya jika shalat jumat habis 2 jam.  Itu masih murah lah, jika dibandingkan rate per hour jadi cleaner 😀

Tidak hanya student dan cleaner (wkwk) yang jadi jama’ah, ada juga para pekerja di sekitaran kampus. Nah mereka ini yang kadang ada batas waktu lunch time karenanya tiap habis shalat langsung cao. Suatu saat, ada kejadian menarik di salah satu khutbah. Suatu ketika seorang khatib mungkin lupa akan waktu, sehingga agak sedikit molor. Tiba-tiba ada seorang jama’ah berdiri dan protes bahwa khutbah terlalu panjang dan mohon segera diakhiri. Bapak khotib PD aja nerusin cuman emang jadi lebih singkat. Jamaah pada mesam-mesem. Mewakili suara hati mereka kali ya. haha. Baru kali ini tahu bisa ada ginian,gan!

Sayang sekali foto-foto di sportshall belum ketemu. Misal ada akan saya update deh nanti. Oh iya, tips jika mau datang kesini ada baiknya juga wudhu dulu di tempat lain karena tempat wudhu waktu dekat-dekat adzan bakal rame dan kecil. Plus datang lebih awal buat nggelar-gelar tikar/karpet. Ngamal om. Tapi saya jarang juga sih. hehe.

#2 DOJO ANU (link gmaps)

Opsi lain misal sportshall nggak bisa dipakai adalah di DOJO tempat karate/taekwondo/Judo/Aikido. Tempatnya masih di lingkungan ANU Sports jadi gak jauh-jauh amat jika terlanjur kecele’ ke hall. Petanya saya lampirkan di bawah ya. Fotonya di download dari FB-nya Muslim Student’s Association ANU.

dojo-hall

Foto Tampak Atas; Source: Muslim Students’ Association ANU

DOJO ini tempatnya lebih adem dan  beralaskan matras buat para penggiat martial arts. Namun dari segi ukuran lebih kecil dari gym, jadi ada baiknya datang awal masbro. Kenapa? Karena nggak ada sound system. Jadi kalau kebiasaan duduk bersama Barzagli, Bonucci dan Cheilini serta Buffon di barisan belakang, kita nggak bakal denger tuh khotib bilang apa. Dengarnya pas doa penutup doang.  Apalagi pas dipasangin kipas angin yang juga keluar bunyi white noise. Ngantuk deh 😀   Untuk itulah, masbro,  jadilah seperti Mandzukic, Dybala atau Higuain: di barisan depan. Wkwk.

dojo

Jika mau masuk ke DOJO tinggal ke pintu depan ini naik ke lantai dua belok kanan. Dekat lapangan squash 😀

#3 Mushola ANUMA (ANU Muslim Association)  (link gmaps)

anuma

Musholla ANUMA tampak depan

Opsi ketiga alias terakhir adalah di Mushola ANUMA di deket Menzies Library. Mushola ini dikelola oleh ANU Muslim Student Association Tempatnya lumayan nyaman karena sudah berkarpet dan wangi. Nah masalahnya Mushola ANUMA ini nggak muat untuk menampung 150-200an jamaah. Maka terkadang luber ke jalan. Namun, jangan khawatir,  shalat Jum’at di Mushola ANUMA itu jarang banget sih sebenarnya.

anuma-zoom-out

ANU Musholla tampak dari atas. Source: Muslim Students’ Association ANU

Selama 2 tahun kuliah di ANU, baru dua kali Jum’atan disana. Dan itu pas pertama kali Jum’atan di ANU. Jadi, saat itu saya jalan dari Crawford–> sportshall –> dojo –> Mushola ANUMA. Bagi yang pernah tahu besarnya kampus ANU.  Jalan dengan rute tersebut cukup membakar kalori di perut anda gan! Saya nemunya pun tidak sengaja, hanya mengikuti ada mas-mas Pakistan berjubah dan berjenggot panjang jalan cepet. Entah kemana saya ikutan dia dari belakang. Coba kalau jalan cepetnya cuman mau ke toilet? hehe. Alhamdulillah, masnya sama tujuannya mau Shalat Jum’at.

Ok, saya akui, belum move on dari Canberra 🙂

Rotterdam, 28 Desember 2017

signature-pugo

 

Teman Teladan #1

anzas_nuning

Alhamdulillah, dua minggu yang lalu mendapatkan kesempatan disambangi dan bertukar cerita dengan pasangan “Njeruk” Teladan ini. Kami menyebut pasangan “Njeruk” bagi pasangan suami istri sesama alumni SMAN 1 ‘Teladan’ Jogjakarta tanpa memandang angkatan. Karena ada yg meminang adek kelas atau kakak kelas.

Mas Anzas dan Mbak Nuning bersama putrinya yg lucu bernama Seruni mampir ke Rotterdam setelah melancong ke Bruge dan Brussel di Belgia. Dalam kurun waktu yg singkat sudah tidak terhitung jumlah kota-kota di Eropa yg mereka sudah kunjungi mulai dari Edinburgh, Athens, Venice, Napoli dll. etc. Laporan lebih lengkapnya di IG mbak nuning di @nurul_kuning, sist! Nha, cerita mereka kontras dengan bapak dan ibuknya Fiza yg belum move on dari Belanda sejak pertama kali datang di bulan Maret yg lalu. Paling jauh ke Groningen beli Iga Bakar 

Dari pasangan kombinasi Bantul-Kulon Progo ini kami belajar meniru tag line/Meme filosofis Bus Sumber Kencono yg legendaris di Jawa Timur: “Sing Penting Mantep lan Yakin, InsyaAllah Mengko Alangane Minggir Dhewe”. Alias, Yang penting mantap dan yakin, InsyaAllah Halangan akan Minggir Dengan Sendirinya  Sing penting nekat tapi terukur. Karena waktu di Eropa juga nggak lama. Hehe.

Ini juga yang kami sesali sepulang dari sekolah di Canberra dua tahun lalu karena belum mampir Tasmania dan New Zealand. Kami terlalu itung-itungan. Dasar keluarga muda. KPR oh KPR  Kami ditolak KPR deng, BTW. #CurCol. Terimakasih ya, bapak dan Ibuknya Seruni. Semoga bisa jalan-jalan mentadaburi di sudut Bumi Allah yg lain.

#TemanTeladan #njeruk #LatePost

#TeladanTumandang #TeladanEverywhere#Teladan60Tahun #LustrumXIITeladan

 

signature-pugo