Guyonan Kagama

kagama-belanda

Saya termasuk beruntung bisa berkumpul dengan keluarga Kagama di kota/negara yang berbeda. Pertama di Kagama Canberra yang konon yang paling aktif dibandingkan state lain di negeri Kangguru. Lalu Kagama Belanda menurut kabar burung, juga paling rutin dan ‘hits’ di Benua Eropa.

 

Tapi yang tidak berbeda dari keduanya adalah suasananya. Entah kenapa tiap berkumpul dan berinteraksi dengan lulusan santri padepokan Bulaksumur memberikan rasa nyaman. Tidak merasa ada kompetisi antar sesama yang sangat kental dan saling bantu. Gayeng, guyub, toto titi tentrem kerta raharja #lebay. Jika bercerita tentang apa yang sedang dikerjakan, hingga saat ini saya belum pernah merasakan bahwa mereka mencoba show-off. Meski, apa yang sedang mereka kerjakan itu penting, besar lagi berguna.

 

Yang khas lagi jika ketemuan adalah guyonan dan sentilan-sentilan yang alus. Bahkan, untuk kontestasi Pilkada Jakarta kali ini Kagama punya anekdotnya sendiri. “Siapapun yang menang dalam Pilkada Jakarta, yang menang pasti anak Kagama. Jika Anies Baswedan, jelas, dia lulusan FE UGM angkatan ’89. Nha, bilamana Bapak Basuki, beliau juga anak Kagama.” Lho, kok bisa? “Wa lha iya, Bapak Basuki kan lulusan kampus (jalan) Gadjah Mada (belok kiri).” Maaf yaa jika jayuz. Minimal saya berusaha 😀
#kagama #kulakan #jayuz

 

signature-pugo

Advertisements

Sore di Gardener Cottage

with_mas_ahmad
Habis kuliah dan habis capek-capeknya belajar di Crawford (red:pencitraan) biasanya saya mampir ke Gardener Cottage (GC). GC ini merupakan rumah kecil yg memiliki musholla di Crawford School ANU. Tempat jujukan nongkrong anak Indonesia untuk shalat, ngangetin makanan, ngobrol dan belajar.

Ada seorang abang mahasiswa PiEijDi bidang lingkungan satu ini selalu muncul untuk mampir shalat ashar di GC dan sesekali diskusi dengan kami para junior nya. Nama beliau mas Ahmad. Orangnya sabar sekali jika diajak diskusi. (baca:di-bully) 😀

Suatu sore saya cerita beliau tentang keinginan kuliah lagi ke S3, namun IPK sepertinya enggan mendukung cita. Dengan wajah kalemnya dia bilang “Tenang mas, bisa-bisa kalau PhD mah”. Saya menggumam, wah mas Ahmad ini nggak paham GPA saya semester kemaren kayaknya. Jika tahu pasti terharu dan prihatin 😀

Meski nggak yakin-yakin amat, cerita pengalaman dari mas saya satu ini cukup menyemangati. Hebatnya beliau bukan cuman bicara, tapi mau membantu dengan rela meluangkan waktu proof read paper Master Research Essay (MRE) saya yg di ujung deadline. MRE ini yang nantinya jadi salah satu asbab saya dapat LoA di kampus saya sekarang.

Dua tahun sudah. Akhirnya saya berjodoh bertemu beliau di Belanda. Abang ini memang bilang, “tenang mas nanti bisa masuk”, namun pesan sambungannya belum disampaikan dan baru terangkum dari obrolan di siang yg hangat di Delft dan Rotterdam. “Tapi kalo masuk S3, risiko tanggung sendiri ya 🙂

#ANUconnection
#kangencanberra

 

signature-pugo

 

Podho-Podho Mangan Sego

Semua orang tua punya cara masing-masing untuk menyemangati anak-anaknya yang minder. Keminderan ini mulai terjadi ketika saya memasuki masa SMP. Saat SD, saya berada di lingkungan yang secara sosial ekonomi relatif sama di pinggiran utara Kabupaten Bantul. Nggak pede itu jarang dirasakan. Teman-teman sekolah sama-sama bersepeda atau jalan berangkat-pulang sekolah. Jajanpun yang murah-murah. Bahkan, grontol (jagung rebus tetelan diberi parutan kelapa) adalah makanan favorit karena habisnya lama. Haha. Namun semua  berbeda ketika saya menginjak SMP, minder dengan latar belakang ekonomi orang tua tiba-tiba muncul. Tidak sedikit itu mempengaruhi performa belajar. Heh, dasar ABG. Labil. 😀

Saat itu, saya berkesempatan sekolah di SMP kota, SMP 5 Yogyakarta. Konon, kabar burungnya, SMP saya ini adalah kumpulan anak-anak orang  kaya. Mobil jemputan banyak menunggu tiap di depan sekolah ketika bel pulang berbunyi. Banyak diantara teman-teman membawa motor. Lebih kaya lagi saat itu sudah ada beberapa yang membawa mobil sendiri. Jaman itu seperti itu sungguh dahsyat masbro. Inget lho, saya SMP pada masa dimana Sheila on 7 masih jaya-jayanya, motor Honda Astrea Grand 98-an pun sudah sangat gaulll, Helm-nya masih tipe ciduk dengan tempelan sticker sana-sini. Lalu saat itupun Dian Sastro masih unyu-unyu di film AADC 1 dan makan di Pizza HUT pun masih sangat happening. Kembali ke laptop, bisa jadi jika dihitung gini ratio populasi siswa sekolah itu akan menyamai DKI saat ini 😀 #Kampanye

Ada nasihat dari Ibuk yang penting untuk semua anak-anaknya yang mengalami problem serupa. Kebetulan kami tiga bersaudara bersekolah di kota Yogyakarta semua. Kakak pertama saya di SMP 5, kakak kedua saya di SMP 8 dan Saya sama dengan kakak pertama di SMP 5. “Oalah le/nduk, kabeh kiy uwong yho padha-padha mangan sego. InsyaAllah, awakmu isa ngimbangi kanca-kancamu. Asal leh mu sinau sregep, ora lali shalat, ngaji, karo ndonga.”  [Walah nak, semua orang itu kan sama-sama makan nasi. InsyaAllah kamu bisa mengimbangi teman-temanmu. Asalkan kamu belajar yang rajin, tidak lupa shalat, mengaji dan berdoa]. Kurang lebih seperti itu nasehat beliau.  Memang sih, temen-temen saya sama-sama makan nasi. Tapi kan beda lauknya, Buk 😛 Mereka kan nasi dengan steak #kidding. Masih ingat, saat SD, ada masa dimana kami makan nasi lauk garam. Hal yang mungkin sekarang jarang terjadi di anak-anak masa kini.

Ternyata betul, dengan banyak up and down-nya hingga SMP-SMA-Kuliah S1 kami bertiga  berhasil menjalaninya. Memang kami bukan yang terbaik tapi Alhamdulillah masih bisa bersaing. Kami masih bisa lulus dengan nilai lumayan. Kakak pertama saya lulus dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Kakak kedua saya lulus dari Akademi TNI Angkatan Udara (AAU) dan saya sendiri lolos dari pendadaran di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Lalu bagaimana jika teman-teman kita tidak makan nasi? Contohnya saat saya kuliah di Australia mulai tahun 2013. Saya kok merasa orang-orang bule itu pinter semua. Mereka semua makan Roti! Burger! Salad! Tak kurang akal, nasehat Ibuk: “Wong kiy pada wae saktenane le, nek neng mburi sikile kiy yho kethekuk” [ Orang itu sebenarnya sama saja Nak, kalo BAB ke belakang/WC itu ya kakinya terlipat/tertekuk – Jannn, susah bener ini nyari bahasa Indo-nya. Haha.]  Dan benar, setelah saya observasi dari semua toilet yang saya bersihkan selama saya di Canberra sebagai pejuang Dollar Ostrali, tidak ada toilet yang didesain bagi orang untuk bisa BAB tanpa kakinya terlipat/tertekuk. Kalaupun ada, kemana-mana ‘itu-nya’ nanti [tidak usah dibayangkan ya!].

All in all, Saya kangen Jogja 🙂

wisuda-mbak-retty

Alhamdulillah, mbak Retty lulus S2 UGM. Ditemani Ibuk. Hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. You made it, mbak! See? You can do it. 🙂 #proudbrothers

Perdebatan Ruang TV

habis_nonton

 

Foto di atas diambil saat saya pertama kali nonton bareng di Bioskop. Jika saya tidak keliru kami menonton Om James Bond. Untuk kedua kalinya  pada sekuel Quantum of Solace ini Daniel Craig bermain. Kami memang lebih biasa nonton film action atau horror. Jika ketika terkait dengan film-film romantis religius seperti Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta tentu kita anak JW3 nggak nonton bareng.  Alhamdulillah kami masih normal. Ataupun nonton konser dua dekade Kahitna, live music Maher Zain tentu kami masing-masing cukup selektif mengajak siapa. Hehe.  Biasanya mereka cukup ahli menyembunyikan dengan siapa mereka menonton.

Tapi setahu saya, nonton bareng James Bond itu merupakan jama’ah paling banyak. Kita kemudian jarang nonton bareng karena mungkin banyaknya kesibukan, tapi ada pula andil adanya TV di ruang berkumpul kami di ruang tengah. Dan disanalah banyak perdebatan terjadi.

Saat makan malam habis maghrib biasanya kita berdebat dan eyel-eyelan. Kayak calon pejabat kami diskusi terkait bangsa dan negara. Dari kasus subsidi BBM hingga kasus KPK Cicak versus Buaya. Aktivis bener bukan? Tapi semua berubah setelah jam nonton TV.  Ada dua kutub dalam acara berdebat menonton TV di ruang tengah. Satu kubu punya pandangan bahwa film-film bagus itu ada di HBO ataupun fox movies. Film-film Holywood, Britania Raya dan Eropa jadi acuan. Yang ada di golongan ini di antara Syarif, Sinyo, Fadly, Abas, Dani dan masih banyak lainnya.

Kutub kedua yang juga garis keras meski minoritas adalah para penikmat Celestial Movie. Pendukung ide utamanya adalah Lakso Anindito dan saya sendiri. Kami berpendapat film-film dengan wajah oriental lebih nyaman ditonton dan lebih ideologis. Lakso lebih suka film-film Mandarin, mungkin,  karena wajahnya yang oriental.   Sedangkan saya film Jepang dan Korea. Dua kubu besar ini kemudian berebut dan beradu argumen film mana yang lebih worth it untuk ditonton.

Uniknya, dari dua kubu yang berbeda tadi bersepakat bahwa FTV adalah tayangan wajib di pagi hari. Terutama Bang Fadly. Kalian bisa confirm semua judul FTV pada medio 2009-2010 sudah kami tonton semua. Mulai dari judul-judul aneh seperti “Pacarku Tukang Ojek”, “Cinta di Kandang Sapi”, “Kekasihku Orang Desa”  dan judul-judul sejenis. Bahkan, kami tahu ada seri FTV yang ditayang ulang. Plotnya pun selalu sama: (1) Melibatkan dua karakter berbeda, biasanya yang satu berlatar belakang sangat miskin satu sangat kaya (2) Ketemu tidak diduga  (3) Selalu bertengkar, berkonflik dan benci dulu (4) Karena sering ketemu maka benih-benih cinta muncul  (5) Ada orang ketiga, konflik pun terjadi (6) Jadian dan Happy Ending. Dah gitu-gitu aja 😀

Untuk tayangan olahraga, biasanya perdebatan tidak banyak terjadi. Akan menonton bersama-sama jika final liga champion. Untuk MU maka akan ada Syarif dan Arief yang akan menonton. Chelsea main pasti ada Aulia disana. Jika Arsenal bermain, biasanya sepi dan hanya ada Sinyo di ruang TV 😛 Yang tidak beruntung saya dan Agung Baskoro, kala itu Juventus baru jelek-jeleknya. Tidak ada stasiun televisi yang menyiarkan.

Apapun itu, perdebatan ruang TV akan selalu dirindukan. Dari mulai kekonyolan tak terperi, curhat-curhat, konsolidasi peta persebaran jajahan. Sloga kami perkuat pusat, perbanyak cabang.  Lalu taklupa momen makan malam bareng, makan oleh-oleh yang dibawa kawan kontrakan dari pulang kampung, termasuk pudding, cake atau kue yang penuh cinta dari para fans dan gebetan. Hehe.

Aduh mbak-mbak, andai kalian tahu siapa kami  😀

#KamiTidakBubar #JW3NovusOrdo

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

museum_angkut

Dalam dua minggu belakangan ini setelah berinteraksi dengan banyak orang saat lebaran, mengikuti PK 70 LPDP di Wisma Hijau Depok dan IRSA 13 di Malang, pertanyaan pilih mana kerja keras atau kerja cerdas mulai terlihat benang merahnya. Untuk saya pribadi, lebih baik kerja keras untuk tipikal orang orang Indonesia. Kerja cerdas akan mengikuti.

Dari beberapa kolega kerja yang berhasil mencapai level ,’kerja cerdas’, saya melihat mereka sudah memulainya dengan berlatih dengan waktu panjang untuk hal-hal teknis. Misal belajar statistika dan ekonometrika lalu software Latex, Stata, R, Eviews, SPSS, matlab dan lain sebagainya. Hal yang sama juga terjadi menulis di koran atau jurnal. Diawali dengan menulis di koran/jurnal ditolak belasan atau puluhan kali. Namun kemudian mereka bisa mengolah data dengan cepat, menulis artikel yang masuk koran dengan rutin atau berderet -deret list publikasi di CV. Semua ada learning curve-nya.

Foto di atas diambil di Museum Angkut, Batu Malang sepekan yang lalu. Pedagang dahulu ternyata sudah pandai memaksimalkan potensi. Termasuk potensi sepedanya untuk membawa barang secara kolosal. Kerja kerja kerja, gajian gajian gajian, dolan dolan dolan 😀

#random #siap2sekolah

Tentang Jaket Kampus

anu

Suatu waktu saya sedang belanja di sebuah toko kelontong dekat rumah. Agak unik, bapak yang menerima pembayaran saya tersenyum melihat jaket hoody yang saya kenakan. Jaket hoody kampus yang saya beli dengan diskon dari University Shop tempat saya menempuh program master. “Wah, bapak ini kenal kampus saya kali ya” batin saya. Eh dia kemudian berujar, ” Ha niku jaketipun tulisannya kok anu, mas [itu kok jaketnya kok tulisannya anu, mas]”. Anu. Kata multitafsir bin ambigu dalam bahasa jawa yang bisa dimaknai apapun. Jika ditanya orang, sekolahnya dimana. Kujawab “ANU mas”. mbalik nanya lagi ” kok ANU, ANU napa mas?” Percakapan pun jadi zingg. Nah,Nggak jadi bangga deh sama sekolah. Makane ora oleh sombong le. leh mu sekolah nengendi. Ona anu. Urip mung mampir ngombe, Hidup itu cuman mampir minum.

Lha, apa perlu saya jelaskan bahwa ‘ANU’ adalah salah satu kampus di Ibu Desa Australia. Dan membaca ‘ANU’ itu harusnya ei-en-yu. Kemudian apa juga perlu di-jlentrekkan bahwa ANU menurut QS ranking world ranking di tahun 2016 termasuk ranking 19 dunia dan menurut Time Higher Education (THE) tahun 2016 masuk 51 besar dunia? Lulusannya pernah menduduki jabatan menteri di Indonesia mulai dari Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif misalnya. Lak yho ora perlu tho yho kang?

Jangankan ANU. Lha wong ada cerita unik dari teman saya yang diterima di Harvard University. Ia sempat terdiam membisu mendengar jawaban Ibu-nya ketika dia memberikan kabar baik akan diterimanya dia. “Buk, kula ditampa Harvard [Ibu, saya diterima sekolah di Harvard]”. Ibunya pun menjawab, “Harvard iku apa tho, le? [Harvard itu apa tho, nak]”. Gimana nggak mesem. Dan ini bagian yang membuat saya bangga dengan almamater saya. Si Ibu meneruskan, “Iku karo UGM luwih apik endi? [itu dengan UGM bagusan mana?]. 😀 . Begitulah kira-kira percakapannya. Menurut teman saya, Ibu tetap bahagia, karena jika anaknya menganggap itu baik maka beliau percaya itu kampus yang baik dan bagus. Nderek sungkem nggih Bu. [note buat temenku: kalau ada redaksi yang salah monggo diedit. hehe]

Katanya hari ini ANU ulang tahun yang ke-70, mirip nih dengan angkatan persiapan keberangkatan (PK) saya juga yang ke 70. Kampus tersebut merupakan tempat dimana sentuhan pertama saya dengan dunia Internasional, bertemu banyak bangsa-bangsa di dunia. Umur 70 itu termasuk muda jika dibandingkan dengan kampus-kampus terbaik lainnya. Semoga terus bisa menelurkan agen perubahan dunia. Naturam Primum Cognoscere Rerum. First to learn the nature of things.

#OurANU70th

Untung Ada Calo di Camp Nou

Apakah teman-teman pernah bersinggungan dengan calo? Kalo pengalaman saya selama di Indonesia, interaksi dengan mereka selalu pahit. Baik itu calo tiket kereta api di Stasiun Senen atau calo tiket nonton sepakbola di Senayan. Saya menganggap mereka itu orang suka cari untung dan hobinya naikin harga tiket seenaknya, bahkan hingga dua kali lipat! Tapi, karena kita memang butuh mereka di saat yang genting, yaaaa akhirnya ngalah dengan harga mereka dan calo-lah yang menang. Kitapun rugi karena membayar lebih dari harga resmi. Tapi ada kalanya, berhadapan dengan calo itu menguntungkan.

Ini kisah saya … (dibaca dengan nada seperti inem 🙂 )

Awal mulanya ketika saya berada di Barcelona bersama istri. Waktu itu alhamdulillah ada rejeki bisa nemenin Istri selama kurang lebih tiga minggu pada medio Mei 2012. Kebetulan, istri saya nge-kost di daerah yang hanya 5 menit jalan kaki dari Stadion Camp Nou. Stadion kebanggan publik Catalan. Seperti biasanya sebelum pertandingan dimulai, daerah tempat nge-kost-nya istri kami ramai dengan pendukung Barca hingga parkir kendaraan penuh. Kata istri saya, bus yang lewat di Camp Nou pun sengaja dialihkan untuk tidak lewat stadion.

Hari itu kesebelasan kebanggaan publik catalan, Barcelona FC, akan menjalani laga perempatan final home mereka melawan AC. Milan (yang beritanya ada di-sini). Pada laga sebelumnya, Blaugrana ditahan imbang 0-0 di stadion San Siro, Milan, di Itali. Banyak yang pengen nonton karena dianggap akan terjadi pertarungan sengit. Teman-teman istri sudah berangkat semua ke cafe-cafe untuk menononton laga yang mempertemukan Raksasa Spanyol dan Juara Serie-A ini. Mereka biasanya lebih sering nonton di Cafe karena mungkin lebih murah dan masih dapat atmosfer nonton barengnya.

Konon, harga tiket liga Champion super duper mahal. Ini Liga Champions, bro! Kumpulan para juara Eropa! Siapa yang nggak mau nonton? Saya dan istri lalu mencoba mencari di internet kali aja ada tiket murah dan kita bisa nyempil nonton meski dari tribun yang sangat jauh, jadi ngeliat para pemain kayak titik-titik bulet-bulet gerak 😛 Mungkin bisa dilihat contohnya ketika istri saya ngikut perayaan di tribun paling jauh ketika ada tiket gratisan masuk Camp Nou (gambar di bawah).

barcelona-celebration

Perayaan setelah memenangkan pertandingan melawan MU di tahun 2011

Mau berangkat atau tidak? Itu pertanyaan yang krusial. Karena melihat keadaan dompet, bisa ditebak, kami akhirnya memutuskan untuk cuman jalan-jalan ngeliat Camp Nou saja 😛  Minimal ngerasain atmosfer di luar stadion lah, udah jauh-jauh nggak ada pengalaman kan sayang. Saya ambil jaket, karena waktu itu agak dingin,  dan kami berdua jalan kaki menuju stadion. Saat kami datang di sana,  suasana luar stadion agak sepi karena penonton sudah pada masuk. Biar nggak cengok, kami “thawaf” keliling Camp Nou. Jelas, ini bukan dalam rangka ibadah 😀

Akannnn tetapiiii, suasana di dalam stadion sungguh menggoda ketika upacara sebelum pertandingan dimulai. Official Anthem Liga Champion yang sangat khas itu diperdengarkan dan kedengaran hingga luar stadion memanaskan telinga dan dada saya. (lagunya bisa didengar disini).

“Die Meister (German); Die Besten (German); Les Grandes Équipes (French),  The Champions”. Kalo English Version-nya artinya: The Masters;The best;The biggest teams;The Champions.

Lagu dan liriknya sangat Mistis! Apalagi bagian Chorusnya, Fenomenal! Ditambah riuh suara penonton di dalam stadion, membuat dada ini menggelegak. Waaaaaa, saya nggak kuatttt. Akhirnya merayulah ke istri buat beliin tiket berdua wkwkwk.  Kapan lagi. Seumur-umur. Yaiyalah, saat itu kantong saya nggak ada Euro Rupiah juga deng 😛

Namun ternyata dapat tiket liga champion secara go show nggak gampang. Awalnya, kami cek di loket tiket, ada dua tiket yang paling murah sekitaran 85 Euro untuk satu orang. Eeeee ternyata dua tiket itu berjauhan. Yang satu sayap kiri satu sayap kanan. Masak dadah-dadah. Akhirnya saya nglokro dan njuk nggak gitu semangat. Kata istri, temennya rekomendasiin beli di calo. Waa ini, saya kapok berhadapan dengan calo. Dia lalu menambahkan, dan ini menarik, bisa lebih murah jika pertandingan dimulai! Masalahnya, kami malah dijauhi sama calo, kami mendekat mereka malah mlengos, bukan wajah penonton bola kali yak. Kami saltum juga sih sebenarnya, cuman pakek jaket dan nggak ada atribut Barcelona sama sekali. hoho.

Rejeki memang tak kemana, setelah mencoba jalan ke arah jalan masuk, ada seorang calo, kayaknya sih keturuan Maroko atau Aljazair. Dia bilang “Two Tickets! Two Tickets!” mencoba menawarkan ke kami dengan aksen arab/afrika. Terus dia bilang ” This ticket worth 114 Euro each. But, I’ll sell to you two of them 160 Euro”. Istri nolak, akhirnya nawar, 130 Euro. Awalnya si Bapak, keberatan, terus kami pakek jurus mlengos seakan mau pergi, eee dia mau 😛  Jadi dapatnya satu orang  65 Euro untuk tiket seharga 114 Euro. Malah dia sekalian nganterin ke gate tempat cek tiket. Hoho.

Fenomena murahnya tiket ini dalam teori ekonomi (jika tidak salah) dinamakan Time Utility, Nilai Guna Waktu. -Azik, kepakek juga ilmu kuliah 😛 – Suatu benda akan mempunyai nilai lebih setelah mengalami perubahan waktu atau pada waktu-waktu tertentu. Dalam kasus tiket ini karena “barang”nya berupa nonton bola selama 90 menit, maka kalo udah selesai pertandingan tadi, nilai tiket yang VIP yang harganya 500 Euro sekalipun jadi tiada artinya.

Contoh lainnya, misal kamu juragan toilet di terminal, pas ada penumpangturun yang  sangat kebelet hingga sudah mencapai ujung.  Bisa kok kamu naikin tarif jadi 10 ribu untuk masuk WC. Dia susah untuk menolak karena memang pada saat dimana sangat dibutuhkan. Dan contoh terakhir ini adalah contoh yang kejam 😛

Tiket Liga Champion yang kayak fotokopian

Saat berlari-lari masuk ke stadion kami sempat nggak percaya karena tiketnya kayak cuma fotokopian, tapi pas di-scan lolos-lolos aja. Lega deh. Pas masuk stadion, stadion pada riuh, ternyata AC Milan ngegolin. Karena belum nemu tempat duduk kami duduk di tangga (dasar orang desa), diingetin sama bapak-bapak steward, lalu ditunjukkin ke kursi kami. Ternyata pengaturan kursi disini tertib, jadi kalo beli tiket dijamin dapat tempat duduk. Alhamdulillah, kita dapat tiket nonton liga champion di tribun yang agak dekat, jadi masih bisa lihat Messi atawa Ibrahimovich.

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Pengalaman ini mungkin bisa diaplikasikan jika memang nggak ngebet-ngebet amat mau nonton karena ada probabilitas nggak nemu calo juga,. wkwkwk. Dan, dengan catatan dimulai pada menit ke 30, atau ada yang mau nyoba menit ke 80 baru beli? 😀
Matur Nuwun Pak Calo!

Note:

  • Suasana stadion dan bagaimana pertandingan berlangsung mungkin sudah terlalu mainstream, jadi saya nggak tulis di sini. Hehehe.
  • Penyebutan angka harga tiket bukan karena belagu, ngeliatin punya duit, inginnya sebagai gambaran rill aja misal mau nonton. Semoga berkenan. FYI, habis beli tiket, kami langsung ngirit 😛
  • Saya Juventini! 😀

signature-pugo