Teman Teladan #1

anzas_nuning

Alhamdulillah, dua minggu yang lalu mendapatkan kesempatan disambangi dan bertukar cerita dengan pasangan “Njeruk” Teladan ini. Kami menyebut pasangan “Njeruk” bagi pasangan suami istri sesama alumni SMAN 1 ‘Teladan’ Jogjakarta tanpa memandang angkatan. Karena ada yg meminang adek kelas atau kakak kelas.

Mas Anzas dan Mbak Nuning bersama putrinya yg lucu bernama Seruni mampir ke Rotterdam setelah melancong ke Bruge dan Brussel di Belgia. Dalam kurun waktu yg singkat sudah tidak terhitung jumlah kota-kota di Eropa yg mereka sudah kunjungi mulai dari Edinburgh, Athens, Venice, Napoli dll. etc. Laporan lebih lengkapnya di IG mbak nuning di @nurul_kuning, sist! Nha, cerita mereka kontras dengan bapak dan ibuknya Fiza yg belum move on dari Belanda sejak pertama kali datang di bulan Maret yg lalu. Paling jauh ke Groningen beli Iga Bakar 

Dari pasangan kombinasi Bantul-Kulon Progo ini kami belajar meniru tag line/Meme filosofis Bus Sumber Kencono yg legendaris di Jawa Timur: “Sing Penting Mantep lan Yakin, InsyaAllah Mengko Alangane Minggir Dhewe”. Alias, Yang penting mantap dan yakin, InsyaAllah Halangan akan Minggir Dengan Sendirinya  Sing penting nekat tapi terukur. Karena waktu di Eropa juga nggak lama. Hehe.

Ini juga yang kami sesali sepulang dari sekolah di Canberra dua tahun lalu karena belum mampir Tasmania dan New Zealand. Kami terlalu itung-itungan. Dasar keluarga muda. KPR oh KPR  Kami ditolak KPR deng, BTW. #CurCol. Terimakasih ya, bapak dan Ibuknya Seruni. Semoga bisa jalan-jalan mentadaburi di sudut Bumi Allah yg lain.

#TemanTeladan #njeruk #LatePost

#TeladanTumandang #TeladanEverywhere#Teladan60Tahun #LustrumXIITeladan

 

signature-pugo

Advertisements

Ruang SEF 1.5×2 

uda_angga
Sebelum pindah ke ruangan sekretariat bersama JMME yang sekarang, ruang sekre SEF hanyalah ruang sempit 1.5×2. Padahal setiap angkatannya kurang lebih 30-35 anggota, Gan. Empet-empetan bukan? Namun ad hikmahnya, keterbatasan tadi membuat kita dekat, apalagi saat rapat. Literally.

Di ruangan itulah, saya diwawancarai kakak senior ini untuk menjadi anggota Sharia Economics Forum(SEF) UGM. SEF pertama, sebelum diikuti-ikuti Gunadarma. heuheu. Secara biar diterima menjadi anggota, maka saya jualan kecap. Ketika ditanya, apa visi menjadi anggota SEF, saya bilang akan menjadi Tokoh Anti Riba Indonesia. Naif, ya? Namanya juga Maba. Ternyata, setelah 12 tahun berlalu, saya belum jadi apa-apa. Meskipun, saya tetap pegang teguh untuk jadi anti riba dan ternyata dihindarkan dari riba. Contoh konkrit, saya ditolak bank ketika akan mengajukan KPR. Katanya nggak eligible. Ngutang saja tidak dipercaya 

Tapi yang ingin saya ceritakan lebih adalah sosok kakak senior yang mewawancarai saya, sekaligus ketua SEF saat itu. Uda Angga Antagia. Bisa dibilang, beliau salah satu inspirasi kami adek-adeknya dalam perjuangan Ekonomi Islam. Kala itu beliau pemuda yang punya banyak prestasi, cerdas, IPK tinggi, mudah bergaul dan ramah. Ketika khutbah Jumat dan berbagai diskusi pun beliau sudah sangat artikulatif di usianya. Salah satu rahasianya ternyata budaya literasi dan baca beliau yang tinggi. Tak terhitung jumlah buku di kamar asrama beliau.

Kebiasaan membaca beliau tidak berkurang hingga sekarang. Itu yang saya tangkap dari obrolan singkat sehari dengan beliau di Kota Leiden. Kota dimana dulu para pejuang kemerdekaan berkumpul. Konon, Bung Hatta sering main ke Leiden karena dia dulu kuliah Rotterdam, tapi banyak temennya di Leiden. Diskusi kemudian berlanjut tentang pengalaman kakak senior saya ini di DPR dan lembaga konsultan dimana sekarang bekerja. Mendengar ceritanya, seakan saya belum ngapa-ngapain dan belum banyak yang saya tahu.

Bertemu dengan Uda Angga, juga memberi ingatan kepada saya agar tetap istiqomah agar jangan dekat-dekat riba. Inget Go, wawancara dulu  Dan pastinya, mau belajar ekonomi apa saja, Ekonomi Islam harus selalu di hati.

signature-pugo

 

Guyonan Kagama

kagama-belanda

Saya termasuk beruntung bisa berkumpul dengan keluarga Kagama di kota/negara yang berbeda. Pertama di Kagama Canberra yang konon yang paling aktif dibandingkan state lain di negeri Kangguru. Lalu Kagama Belanda menurut kabar burung, juga paling rutin dan ‘hits’ di Benua Eropa.

 

Tapi yang tidak berbeda dari keduanya adalah suasananya. Entah kenapa tiap berkumpul dan berinteraksi dengan lulusan santri padepokan Bulaksumur memberikan rasa nyaman. Tidak merasa ada kompetisi antar sesama yang sangat kental dan saling bantu. Gayeng, guyub, toto titi tentrem kerta raharja #lebay. Jika bercerita tentang apa yang sedang dikerjakan, hingga saat ini saya belum pernah merasakan bahwa mereka mencoba show-off. Meski, apa yang sedang mereka kerjakan itu penting, besar lagi berguna.

 

Yang khas lagi jika ketemuan adalah guyonan dan sentilan-sentilan yang alus. Bahkan, untuk kontestasi Pilkada Jakarta kali ini Kagama punya anekdotnya sendiri. “Siapapun yang menang dalam Pilkada Jakarta, yang menang pasti anak Kagama. Jika Anies Baswedan, jelas, dia lulusan FE UGM angkatan ’89. Nha, bilamana Bapak Basuki, beliau juga anak Kagama.” Lho, kok bisa? “Wa lha iya, Bapak Basuki kan lulusan kampus (jalan) Gadjah Mada (belok kiri).” Maaf yaa jika jayuz. Minimal saya berusaha 😀
#kagama #kulakan #jayuz

 

signature-pugo

Sore di Gardener Cottage

with_mas_ahmad
Habis kuliah dan habis capek-capeknya belajar di Crawford (red:pencitraan) biasanya saya mampir ke Gardener Cottage (GC). GC ini merupakan rumah kecil yg memiliki musholla di Crawford School ANU. Tempat jujukan nongkrong anak Indonesia untuk shalat, ngangetin makanan, ngobrol dan belajar.

Ada seorang abang mahasiswa PiEijDi bidang lingkungan satu ini selalu muncul untuk mampir shalat ashar di GC dan sesekali diskusi dengan kami para junior nya. Nama beliau mas Ahmad. Orangnya sabar sekali jika diajak diskusi. (baca:di-bully) 😀

Suatu sore saya cerita beliau tentang keinginan kuliah lagi ke S3, namun IPK sepertinya enggan mendukung cita. Dengan wajah kalemnya dia bilang “Tenang mas, bisa-bisa kalau PhD mah”. Saya menggumam, wah mas Ahmad ini nggak paham GPA saya semester kemaren kayaknya. Jika tahu pasti terharu dan prihatin 😀

Meski nggak yakin-yakin amat, cerita pengalaman dari mas saya satu ini cukup menyemangati. Hebatnya beliau bukan cuman bicara, tapi mau membantu dengan rela meluangkan waktu proof read paper Master Research Essay (MRE) saya yg di ujung deadline. MRE ini yang nantinya jadi salah satu asbab saya dapat LoA di kampus saya sekarang.

Dua tahun sudah. Akhirnya saya berjodoh bertemu beliau di Belanda. Abang ini memang bilang, “tenang mas nanti bisa masuk”, namun pesan sambungannya belum disampaikan dan baru terangkum dari obrolan di siang yg hangat di Delft dan Rotterdam. “Tapi kalo masuk S3, risiko tanggung sendiri ya 🙂

#ANUconnection
#kangencanberra

 

signature-pugo

 

Podho-Podho Mangan Sego

Semua orang tua punya cara masing-masing untuk menyemangati anak-anaknya yang minder. Keminderan ini mulai terjadi ketika saya memasuki masa SMP. Saat SD, saya berada di lingkungan yang secara sosial ekonomi relatif sama di pinggiran utara Kabupaten Bantul. Nggak pede itu jarang dirasakan. Teman-teman sekolah sama-sama bersepeda atau jalan berangkat-pulang sekolah. Jajanpun yang murah-murah. Bahkan, grontol (jagung rebus tetelan diberi parutan kelapa) adalah makanan favorit karena habisnya lama. Haha. Namun semua  berbeda ketika saya menginjak SMP, minder dengan latar belakang ekonomi orang tua tiba-tiba muncul. Tidak sedikit itu mempengaruhi performa belajar. Heh, dasar ABG. Labil. 😀

Saat itu, saya berkesempatan sekolah di SMP kota, SMP 5 Yogyakarta. Konon, kabar burungnya, SMP saya ini adalah kumpulan anak-anak orang  kaya. Mobil jemputan banyak menunggu tiap di depan sekolah ketika bel pulang berbunyi. Banyak diantara teman-teman membawa motor. Lebih kaya lagi saat itu sudah ada beberapa yang membawa mobil sendiri. Jaman itu seperti itu sungguh dahsyat masbro. Inget lho, saya SMP pada masa dimana Sheila on 7 masih jaya-jayanya, motor Honda Astrea Grand 98-an pun sudah sangat gaulll, Helm-nya masih tipe ciduk dengan tempelan sticker sana-sini. Lalu saat itupun Dian Sastro masih unyu-unyu di film AADC 1 dan makan di Pizza HUT pun masih sangat happening. Kembali ke laptop, bisa jadi jika dihitung gini ratio populasi siswa sekolah itu akan menyamai DKI saat ini 😀 #Kampanye

Ada nasihat dari Ibuk yang penting untuk semua anak-anaknya yang mengalami problem serupa. Kebetulan kami tiga bersaudara bersekolah di kota Yogyakarta semua. Kakak pertama saya di SMP 5, kakak kedua saya di SMP 8 dan Saya sama dengan kakak pertama di SMP 5. “Oalah le/nduk, kabeh kiy uwong yho padha-padha mangan sego. InsyaAllah, awakmu isa ngimbangi kanca-kancamu. Asal leh mu sinau sregep, ora lali shalat, ngaji, karo ndonga.”  [Walah nak, semua orang itu kan sama-sama makan nasi. InsyaAllah kamu bisa mengimbangi teman-temanmu. Asalkan kamu belajar yang rajin, tidak lupa shalat, mengaji dan berdoa]. Kurang lebih seperti itu nasehat beliau.  Memang sih, temen-temen saya sama-sama makan nasi. Tapi kan beda lauknya, Buk 😛 Mereka kan nasi dengan steak #kidding. Masih ingat, saat SD, ada masa dimana kami makan nasi lauk garam. Hal yang mungkin sekarang jarang terjadi di anak-anak masa kini.

Ternyata betul, dengan banyak up and down-nya hingga SMP-SMA-Kuliah S1 kami bertiga  berhasil menjalaninya. Memang kami bukan yang terbaik tapi Alhamdulillah masih bisa bersaing. Kami masih bisa lulus dengan nilai lumayan. Kakak pertama saya lulus dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Kakak kedua saya lulus dari Akademi TNI Angkatan Udara (AAU) dan saya sendiri lolos dari pendadaran di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Lalu bagaimana jika teman-teman kita tidak makan nasi? Contohnya saat saya kuliah di Australia mulai tahun 2013. Saya kok merasa orang-orang bule itu pinter semua. Mereka semua makan Roti! Burger! Salad! Tak kurang akal, nasehat Ibuk: “Wong kiy pada wae saktenane le, nek neng mburi sikile kiy yho kethekuk” [ Orang itu sebenarnya sama saja Nak, kalo BAB ke belakang/WC itu ya kakinya terlipat/tertekuk – Jannn, susah bener ini nyari bahasa Indo-nya. Haha.]  Dan benar, setelah saya observasi dari semua toilet yang saya bersihkan selama saya di Canberra sebagai pejuang Dollar Ostrali, tidak ada toilet yang didesain bagi orang untuk bisa BAB tanpa kakinya terlipat/tertekuk. Kalaupun ada, kemana-mana ‘itu-nya’ nanti [tidak usah dibayangkan ya!].

All in all, Saya kangen Jogja 🙂

wisuda-mbak-retty

Alhamdulillah, mbak Retty lulus S2 UGM. Ditemani Ibuk. Hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. You made it, mbak! See? You can do it. 🙂 #proudbrothers

Perdebatan Ruang TV

habis_nonton

 

Foto di atas diambil saat saya pertama kali nonton bareng di Bioskop. Jika saya tidak keliru kami menonton Om James Bond. Untuk kedua kalinya  pada sekuel Quantum of Solace ini Daniel Craig bermain. Kami memang lebih biasa nonton film action atau horror. Jika ketika terkait dengan film-film romantis religius seperti Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta tentu kita anak JW3 nggak nonton bareng.  Alhamdulillah kami masih normal. Ataupun nonton konser dua dekade Kahitna, live music Maher Zain tentu kami masing-masing cukup selektif mengajak siapa. Hehe.  Biasanya mereka cukup ahli menyembunyikan dengan siapa mereka menonton.

Tapi setahu saya, nonton bareng James Bond itu merupakan jama’ah paling banyak. Kita kemudian jarang nonton bareng karena mungkin banyaknya kesibukan, tapi ada pula andil adanya TV di ruang berkumpul kami di ruang tengah. Dan disanalah banyak perdebatan terjadi.

Saat makan malam habis maghrib biasanya kita berdebat dan eyel-eyelan. Kayak calon pejabat kami diskusi terkait bangsa dan negara. Dari kasus subsidi BBM hingga kasus KPK Cicak versus Buaya. Aktivis bener bukan? Tapi semua berubah setelah jam nonton TV.  Ada dua kutub dalam acara berdebat menonton TV di ruang tengah. Satu kubu punya pandangan bahwa film-film bagus itu ada di HBO ataupun fox movies. Film-film Holywood, Britania Raya dan Eropa jadi acuan. Yang ada di golongan ini di antara Syarif, Sinyo, Fadly, Abas, Dani dan masih banyak lainnya.

Kutub kedua yang juga garis keras meski minoritas adalah para penikmat Celestial Movie. Pendukung ide utamanya adalah Lakso Anindito dan saya sendiri. Kami berpendapat film-film dengan wajah oriental lebih nyaman ditonton dan lebih ideologis. Lakso lebih suka film-film Mandarin, mungkin,  karena wajahnya yang oriental.   Sedangkan saya film Jepang dan Korea. Dua kubu besar ini kemudian berebut dan beradu argumen film mana yang lebih worth it untuk ditonton.

Uniknya, dari dua kubu yang berbeda tadi bersepakat bahwa FTV adalah tayangan wajib di pagi hari. Terutama Bang Fadly. Kalian bisa confirm semua judul FTV pada medio 2009-2010 sudah kami tonton semua. Mulai dari judul-judul aneh seperti “Pacarku Tukang Ojek”, “Cinta di Kandang Sapi”, “Kekasihku Orang Desa”  dan judul-judul sejenis. Bahkan, kami tahu ada seri FTV yang ditayang ulang. Plotnya pun selalu sama: (1) Melibatkan dua karakter berbeda, biasanya yang satu berlatar belakang sangat miskin satu sangat kaya (2) Ketemu tidak diduga  (3) Selalu bertengkar, berkonflik dan benci dulu (4) Karena sering ketemu maka benih-benih cinta muncul  (5) Ada orang ketiga, konflik pun terjadi (6) Jadian dan Happy Ending. Dah gitu-gitu aja 😀

Untuk tayangan olahraga, biasanya perdebatan tidak banyak terjadi. Akan menonton bersama-sama jika final liga champion. Untuk MU maka akan ada Syarif dan Arief yang akan menonton. Chelsea main pasti ada Aulia disana. Jika Arsenal bermain, biasanya sepi dan hanya ada Sinyo di ruang TV 😛 Yang tidak beruntung saya dan Agung Baskoro, kala itu Juventus baru jelek-jeleknya. Tidak ada stasiun televisi yang menyiarkan.

Apapun itu, perdebatan ruang TV akan selalu dirindukan. Dari mulai kekonyolan tak terperi, curhat-curhat, konsolidasi peta persebaran jajahan. Sloga kami perkuat pusat, perbanyak cabang.  Lalu taklupa momen makan malam bareng, makan oleh-oleh yang dibawa kawan kontrakan dari pulang kampung, termasuk pudding, cake atau kue yang penuh cinta dari para fans dan gebetan. Hehe.

Aduh mbak-mbak, andai kalian tahu siapa kami  😀

#KamiTidakBubar #JW3NovusOrdo

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

museum_angkut

Dalam dua minggu belakangan ini setelah berinteraksi dengan banyak orang saat lebaran, mengikuti PK 70 LPDP di Wisma Hijau Depok dan IRSA 13 di Malang, pertanyaan pilih mana kerja keras atau kerja cerdas mulai terlihat benang merahnya. Untuk saya pribadi, lebih baik kerja keras untuk tipikal orang orang Indonesia. Kerja cerdas akan mengikuti.

Dari beberapa kolega kerja yang berhasil mencapai level ,’kerja cerdas’, saya melihat mereka sudah memulainya dengan berlatih dengan waktu panjang untuk hal-hal teknis. Misal belajar statistika dan ekonometrika lalu software Latex, Stata, R, Eviews, SPSS, matlab dan lain sebagainya. Hal yang sama juga terjadi menulis di koran atau jurnal. Diawali dengan menulis di koran/jurnal ditolak belasan atau puluhan kali. Namun kemudian mereka bisa mengolah data dengan cepat, menulis artikel yang masuk koran dengan rutin atau berderet -deret list publikasi di CV. Semua ada learning curve-nya.

Foto di atas diambil di Museum Angkut, Batu Malang sepekan yang lalu. Pedagang dahulu ternyata sudah pandai memaksimalkan potensi. Termasuk potensi sepedanya untuk membawa barang secara kolosal. Kerja kerja kerja, gajian gajian gajian, dolan dolan dolan 😀

#random #siap2sekolah