Gelisahku

Tiba-tiba saja, aku tertarik untuk melakukan murojaah buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” karya Kakanda Salim. Lembar demi lembar kusimak. Namun kemudian, kelebat-kelebat peristiwa yang dulu pernah terjadi kembali muncul, aku pada 5 tahun yang lalu. Mau tak mau aku mengevaluasi diri, bukan dalam arti apakah kemudian siap melakukan pernikahan  atau apapun terkait pernikahan.

Bukan, bukan itu.

Buku ini mengingatkanku pada  sesuatu. Ada desir-desir rasa bersalah. Ada sedikit rasa gundah. Namun lebih  dari itu, ada segumpal besar rasa menyesal. Lalu sedih, melihat ada yang  kemudian mengendur semangatnya, lupa akan apa yang diperjuangkannya dulu, tentang dakwah, tentang umat Islam, tentang bumi yang lebih baik sambil memandang pelangi-pelangi atau siluet kala senja. Waktu itu kita punya cita-cita mulia, pandangan kita seluas buana. Aku takmau itu hilang, terpesona akan kilau dunia, bukankah ianya fana dan hanya fatamorgana?

Ada yang mengetuk-ngetuk hati ini, bertanya, “Pugo, kenapa kamu sekarang berbeda?” Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.

Jam menunjukkan jam 15:56, kereta yang kutumpangi menderum dan akan berangkat mengantar para penumpangnya kembali menjemput cita.

Stasiun Kota Bogor, 8 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s