Mencari Sempurna: Curhat Penulis Amatir

Berinteraksi dengan banyak orang hebat ternyata bisa jadi masalah juga. Maksudku, jika tidak disikapi dengan cara pandang yang baik. Masalah ini baru aku alami berawal, dengan diterimanya aku untuk mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship.  Semenjak bertemu dengan orang-orang sip bin tokcer, aku jadi bertendensi untuk menjadi orang yang selalu ingin kelihatan perfect dalam hal menulis. Dulu pada saat awal-awal masuk enam bulan pelatihan bahasa di Kuningan, aku bertekad, ingin menulis dalam bahasa Inggris minimal satu tulisan per dua hari kemudian di-post di blog. Tekad tinggallah tekad, hingga hari ini (tinggal 9 hari lagi selesai masa pendidikan), hanya dua biji tulisan yang aku posting. Arrrghhh, sungguh tidak konsisten! Karena ingin selalu bikin esai yang masterpiece, overwhelming writing atau sebangsanya, justru membuatku kurang produktif dan kurang bisa mengalirkan gagasan dalam tulisan.

Padahal, sebenarnya banyak ide yang ada di otak. Mulai dengan menuliskan kisah perjalanan, peristiwa menarik selama ramadhan, catatan harian selama di Jakarta hingga isu-isu terkini tentang ekonomi Indonesia, tapi semua itu hanya tinggal ide. Nihil realisasi. Aku malah takut menulis salah. Hasilnya, ragu menuangkan ide, entar jika kayak gini kayaknya kurang yahud, kalo aku nulis ini nanti dicibir orang. Walaupun aku tahu, sebenarnya itu semua tidak masalah. In fact, they don’t care about it.

Kita sebenarnya dalam belajar hanya diminta mencoba, berlatih, tahu akan kesalahan akhirnya paham lalu memperbaiki. Aku jadi ingat, masa-masa kecil, bahwa kita tak pernah takut belajar. Naik sepeda jatuh, bangun lagi, jatuh bangun lagi. Lecet? Nangis? Nggak. Justru kadang ada di antara kita malah tertawa. Itulah hebatnya anak kecil. Pokoknya bandel, maju terus! Yap! Aku rindu semangat itu!

Mencari sempurna memang diperlukan. Kita memang diajarkan untuk berbuat ihsan, dan memang menuju ke arah sana. Meski begitu, aku merasa tidak adil pada diri sendiri jika berharap sampai tujuan dengan satu lompatan. Ia akan  jauh lebih berat daripada menapakkan melangkah dengan berkelanjutan, satu langkah, dua langkah dan seterusnya. Little by little. Don’t expect too much. Dont worry, we are gonna reach the top. Yang harus kita sadar betul-betul adalah bahwa kita memang tidak sempurna, karena sempurna adalah milik Andra and the Backbone. 😀

-Sebuah sudut ruang di Kantor MES, Setiabudi | 9 Oktober 2012 | Tes tinggal 10 Hari lagi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s