Akhirnya ke Singapura!

Tersebutlah Cahyo Setiadi Ramadhan salah satu teman terbaikku selama berseragam abu-abu. Dialah yang kuajak untuk menjalankan ide jalan-jalan ke Singapura di akhir tahun 2009. “Santai saja Bah, nanti aku beliin tiketnya,” kataku santai. Padahal, saat itu aku baru saja resign dari pekerjaan sebagai asisten dosen. Ada duit?  Nggak juga, tapi pede aja lagi.

Nah, cerita menjadi menarik ketika ngobrol bersama seorang senior bernama Dapur tentang rencanaku. By the way, sekilas info, kami memanggilnya mas Dapur karena nama lengkapnya adalah Danang Purwanto. Jika disingkat, jadi Dapur. Atas nama efisiensi mungkin. Oh ya, jangan sekali-kali menambah kata “mu” di belakang namanya karena, orang Jogja akan menganggapmu berkata tidak sopan.

Terkait dengan rencana jalan-jalan ini, dia berkata padaku, bahwa lebih baik aku merencanakan hal lain yang lebih prioritas dan penting. Dia emang lebih bijak. Sudah nikah kali ya. Tapi aku tetep ngeyel pengen jalan-jalan, masih berusaha nyari-nyari duit. Hingga nantinya di akhir Desember 2009 aku akhirnya mengakui apa kata mas Dapur. I did not have enough money. Batal deh. Dan aku pun akhirnya nggak jadi beliin Cahyo tiket.

Tiga tahun berlalu. Umur bertambah. Akupun sudah menikah. Halah. [www.pamer.org :D]. Ternyata, Allah menakdirkanku menikah dengan seorang akhwat cantik yang saat ini harus bekerja di Singapura. What a coincidence! Di sela-sela les bahasa Inggris di Jakarta, saat weekend adalah hari yang ditunggu-tunggu. Tilik istri. Ke Singapura lagi. Akhirnya! Salah satu angan kesampaian. Tiket yang kami pesan 3 bulan sebelumnya sudah di tangan, syarat punya passport pun sudah bukan merupakan hambatan. Berangkatlah saya pada pukul 19.40 tanggal 16 September yang lalu ke Singapura. Judulnya sih tilik istri tapi memang side effect-nya nyenengin juga. Jalan-Jalannnn.

Pukul 9 malam waktu Singapura pesawat Air Asia yang saya tumpangi mendarat. Sudah menunggu istri tersayang, di Bandara. Sebelum berangkat, she told me that, Changi Airport adalah satu-satunya bandara yang semua lantainya pakek karpet. Agak kurang percaya sih. Tapi pas ngeliat sendiri, memang beneran. Ini negara sisa-sisa bener duitnya. Akhirnya kami ketemu di bagian kedatangan, cukup mudah memang karena petunjuk arah bandara tidak membingungkan. Bandara, memang tempat bertemu dan berpisah untuk sementara kami. Yaaa, kayak di drama-drama Korea itulah 😀

Sumber: Dokumen Pribadi

Bagi sebagian orang-orang, jalan-jalan ke Singapura itu biasa aja. Tapi menurutku istimewa karena dua hal. Pertama, karena kekasih hati ada di sana. Yang kedua karena memang banyak hal yang bisa dilihat. Mungkin kali ini alasan kedua saja yang akan jadi cerita. Yang pertama rahasia. 😀

Setidaknya ada dua tempat menarik yang aku kunjungi kemaren: Marina Bay dan Masjid Sultan. Dua-duanya memiliki daya pikat sendiri. Di Marina Bay, kita bisa melihat landmark Singapura yaitu Merlion. Karena sudah sering kita lihat gambarnya di internet dan bisa nyari di google maka nggak perlu diceritain. Meskipun begitu, ada satu hal yang menarik yang kami temukan ketika jalan-jalan disana. Khususnya di malam hari. Apalagi kalau bukan Marina Bay Sands dengan permainan tata lampunya. Saat itu malam minggu (Yes! Akhirnya bisa malam mingguan bareng istri :D), nggak tahu ada acara apa, lampu-lampu yang ada di Marina Bay Sands menyala-nyala dengan harmoni di seberang sana. Kami berdua terpana. Istri yang sudah tinggal selama 5 tahun di Singapura ternyata juga baru pertama kali melihatnya. Dengan kamera dan tripot yang sudah kami bawa, momen indah itu bisa kami abadikan. Sangat reccommended buat couple deh. 😉

Masjid Sultan Singapura dan Saya 😀
Sumber: Dokumen Pribadi

Di hari minggunya, saat sekalian menuju bandara karena memang jadwal pesawat agak mendekati Maghrib, maka kami mencoba ke Masjid Sultan. Masjid Sultan adalah salah satu masjid besar yang ada di Singapura. Terletak di kampung Glam. Jika masih ada budget, maka ada baiknya temen-temen mencoba Murtabak yang dijual di pinggir jalan dekat masjid, katanya sih terkenal. Aku dan istri sih cuman beli Roti Prata pakai telor, makanan khas India yang disantap dengan kari. Karena waktu yang terbatas, maka aku cepat-cepat saja di sana.

Masuk ke dalam masjid dan melihat-lihat beberapa bagian interior masjid yang indah dan tertata rapi. Misal temen-temen pernah melihat gambar-gambar masjid di Aceh dan beberapa provinsi di Sumatera,  Masjid Sultan sepertinya agak mirip-mirip. Yang menarik lainnya,  disana ada semacam media sosialisasi mengenai Islam dan Muslim. Beberapa diantaranya menceritakan value yang dijunjung oleh Islam, seperti tidak menyukai kekerasan, toleran dan sangat mengerti pentingnya keluarga dan pernikahan.  Semua media tadi diatur dengan baik. Cantik.

Yaaaa… Jam menunjukkan jam 18.00 Waktu Singapura. Aku harus ke Bandara! Anyway, akhirnya ke Singapura! 😀

IALF Kuningan, Saat Test IELTS tinggal esok hari menulis jadi satu solusi ketika stress menghantui 😀 , 18 Oktober 2012

P.S: Cahyo, I owe a ticket to Singapore for you. Insya Allah, one day, I will make it 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Akhirnya ke Singapura!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s