10S3E

Hari ini adalah hari ke 18 semenjak kedatangan pertamaku di  Bush Capital Australia, Canberra. Tahukah? Sambil melamun di atas pesawat kecil ATR sebelum mendarat di Canberra Airport, melihat luasnya padang ilalang, aku masih bertanya-tanya: Can I survive in this city? Apakah sebenarnya aku pantas sekolah disini? Jikapun lulus, apakah dengan hasil yang memuaskan? atau biasa-biasa aja asal lulus dan membawa gelar agar tidak malu dengan sesama teman ketika pulang? Lulusan Australi, kan kelihatan keren bukan? Lalu gimana kalo failed? Kekhawatiran demi kekhawatiran kemudian muncul, Khususnya dalam hal pendidikan. Bukan dalam hal tempat tinggal, makan dan lain sebagainya. Satu yang sangat dikhawatirkan adalah: STUDI.

Kembali ke  memori awal masa kuliah jurusan Ilmu Ekonomi di Universitas Gadjah Mada, bulan Juli 2005, 8 tahun yang lalu (Ah, ternyata aku sudah tidak muda lagi ya :D). Kesan pertama? Haaa kok  bisa keterima? bukannya waktu UM hanya bisa ngerjain 12 soal Matematika Dasar? Status sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM saat itu sungguh membuat hati ini ragu dan takut. Yang kutahu FE UGM adalah salah satu kampus Ekonomi terbaik di tanah air dan lulusannya menjadi garda terdepan dalam kontribusinya membangun Indonesia. Apa iya aku bisa bersaing dengan teman-teman dari berbagai penjuru daerah?

Selama awal-awal masa kuliah S1 aku jalani dengan ala kadarnya. Asal masuk, absen, nyatet kuliah, ngerjain PR di kampus lihat kerjaan teman dan banyak bad habits selama SMA masih terbawa. Hasilnya? Indeks Prestasi pada dua semester awal tidaklah membahagiakan. Aku masih ingat, 3.05 di semester pertama dan 3.24 di semester kedua. Dua semester awal ini membuatku realistis bahwa dengan bertahan di posisi 3.25 di jurusan Ilmu Ekonomi UGM sudah cukup. Dengan itu saja aku bisa dapat kerjaan. Bisa di BUMN, Bank atau apa sajalah. Asal bisa hidup dengan layak. Nggak usah neko-neko dan bercita-cita tinggi. “Udahlah Go, gini-gini aja cukup” batinku. Sikap setengah-setengah dan nggak niat tadi ternyata berbuah pada nilai E (0) alias gagal total pada 3 mata kuliah selama aku kuliah 10 Semester. Dan, ketiga nilai E tadi mewakili sikap-sikap buruk sebagai mahasiswa yang aku harus dihindari setiap pembelajar.

E Pertama untuk Menunda-nunda

Ekonomi Pembangunan 2 adalah ujian hari itu. Malamnya,  aku kebut semalam apa yang harus dipelajari untuk ujian. Kabar bahwa salah satu teman dengan nilai terbaik di angkatan kami yang tidak mendapatkan nilai A cukup membuatku ngeri. Dia saja tidak mendapatkan nilai sebagus itu bagaimana denganku? (Persangkaan kayak gini jangan dicontoh!) Mulailah aku dengan membaca semua materi selama 14 pertemuan terakhir dari awal sampai akhir. Sebuah usaha yang sia-sia sebenarnya. Dalam belajar, 14 kali satu tidak sama dengan 1 kali 14! Esok paginya aku berangkat pagi agar bisa belajar di sekretariat SKI (wuih sholeh bener, belajar aja di ruang SKI 😀 ). Ternyata belajar di tempat yang bernuansa Islami saja tidak cukup (hehehe, ngarep dapat ilham soal). Jadwal ujian adalah 9.15, jam di ruang SKI menunjukkan jam segitu, aku hanya ingin menunda barang 5 menit untuk review. Aku belum yakin siap untuk ujian! Arghhh! Rasa penyesalan muncul, kenapa nggak belajar nyicil dari dulu ya? (Halah, penyesalan kayak gini muncul lagi, tobat sambel :D). Ternyata penundaan 5 menit tadi berbalas air tuba! Jam dinding di SKI ternyata kemunduran 5 menit dari jam di ruang ujian! oh noooo. Peraturan terbaru fakultas menyebutkan barangsiapa yang terlambat ujian lebih dari 15 menit tidak diperkenankan masuk ujian. Tidak ada toleransi. Dan akupun yang terlambat 17 menit pun dilarang ikut ujian oleh penjaga ujian. Walhasil, mlongo keluar kelas. Baru kali aku dapat nilai E, 0 atau semacamnya. 14 semester hilang percuma. Dari kejauhan, seniorku bernama Mas Jarot Aryo Pidekso (Manajemen 2004) dengan tergesa-gesa menuju kelas. Kita sekelas untuk mata kuliah Ekonomi Pembangunan ini. Entah ini jahat atau apa tidak, ada teman dalam kesusahan memang memperingan beban 😛

E Kedua untuk Malas-malasan

Peraturan baru di kampus yang cukup ketat yaitu tentang kehadiran kuliah. Bagi mahasiswa yang sudah absen lebih dari 3 kali kuliah tatap muka (75%) itu berarti bencana. Sisi baiknya, kita dapat 3 kali jatah bolos. Yayyy!! Bagi pemalas, ini kabar gembira. hohoho. Melihat “kuota” membolos tersebut kadang bagi pemalas bisa dilakukan untuk mengerjakan hal lain selain hal akademis. Main PES, ngerjain PR mata kuliah lain (nih manajemen waktu yang parah, bukan?), atau sekedar stay at home alias tidur di rumah. Untuk mata kuliah Ekonomi Publik 2 di semester 4 itu, kuotaku sudah habis. Sudah 3 kali aku bolos kuliah, dengan berbagai macam alasan / tanpa alasan hingga minggu ke-13. Minggu ke-14 alias minggu terakhir adalah saat yang krusial, malam sebelumnya aku drop, sakit. Panas dan demam yang membuatku tidak bisa berangkat ke kelas. Akupun pucat pasi, karena jika aku tidak berangkat nilaiku akan  E, masak dalam satu semester nilai E ada dua ??? Akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara kurang terpuji, titip absen teman. Hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Ketika aku titip kepada teman, dia kemudian memberi kabar bahwa tidak bisa karena saat itu di absen oleh Dosen. Oh noooo (lagi). Tapi sekarang aku bersyukur, bahwa titip absen itu tidak terjadi karena pertama itu berarti cheating dan aku mengajak temanku berbuat tidak jujur juga sebuah kesalahan. Kemalasan demi kemalasan yang terkumpul ternyata membawa kita pada kesulitan yang tidak akan pernah kita bayangkan. Dalam kasus saya, nilai E kembali menghias tabel nilai Indeks prestasi saya. Indeks Prestasi semester pada saat itu adalah 2.0. Sounds good? 

E Ketiga untuk Keraguan dan Ketakutan

Ekonometrika, bagi banyak mahasiswa Ilmu Ekonomi mungkin bisa jadi momok yang serius dalam perjalanan akademiknya. Ada beberapa memang yang berhasil, namun banyakkkk yang kurang beruntung. Mata kuliah ini dibagi menjadi dua. Ekonometrika 1 dan Ekonometrika 2. Alhamdulillah, di Ekonometrika 1 aku diampu oleh dosen idola.Bagi mahasiswa ilmu ekonomi UGM, dosen satu ini memang tidak tergantikan. Mungkin karena berhasil memotivasi kami sekelas, aku yang tidak begitu menonjol dalam hal kuantitatif masih bisa survive dengan menjalani satu langkah demi langkah yang beliau berikan. Anehnya, dan memang seharusnya, beliau bisa membawa kami pada suasana bahwa apa yang sedang kita pelajari ini akan berguna bagi perjalanan akademis ataupun karir, atau bahkan dalam menjelaskan fenomena ekonomi negeri. Karena termotivasi akhirnya aku bisa finish dengan nilai B. Not bad lah (berusaha menghibur diri :P), untuk ukuranku itu sudah diluar ekspektasi.

Hal yang lain terjadi pada mata kuliah Ekonometrika 2. Materi lebih advance dengan dosen yang berbeda Aku sebagai mahasiswa, tahu betul beliau ini paling mumpuni dalam hal ekonometrika di kampus. Sudah menjadi legenda jika untuk mendapatkan nilai dari beliau, super duper sungguh sangat sekali susahnya. Isu ataupun gosip ini ternyata mempengaruhi sikapku pada mata kuliah ini. Aku takut, tidak bisa bertahan dan survive. Ekonometrika 1 sebelumnya cukup berhasil, tidak membuatku cukup pede menghadapi mata kuliah ini (walau sebenarnya aku baca-baca lagi, dasarnya udah ada dan udah kupelajari). Rasa takut dan kurang pede ini ditambahi dengan harus mempelajari software E-Views yang menurutku canggih bukan kepalang, hingga saat inipun aku tidak bisa mengoperasikannya. Ketika dosen menayangkan how it works, dengan programming cepat dan berubah-ubah layar dengan cepat, itu sungguh-sungguh membuatku freak. Dimana aku ini? barang apa ini? atau pertanyaan semacam, ini nanti buat ngapain? Akupun end up dengan menyerah. Saat itu aku juga menjadi asisten seorang dosen yang juga sangat sibuk akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kelas, dan besok mengulang. Aku lari dari mata kuliah ini. Sebuah keputusan yang hingga saat ini kusesali. Cobaaa saja aku bisa mengatasi rasa takut, kemudian menyesuaikan usaha dan manajemen waktu. Isunya bukan dosennya siapa, tapi siapa yang bisa menjalani dengan kesabaran dan penuh keberanian. Huffttt, memang, penyesalan itu di akhir.  

Di Tengah Gurun Ada Oase

Di tengah badai akademik yang tiada terkendali (ceileh bahasanya), alhamdulillah, aku berada di antara banyak orang baik yang siap membantu dan saling memotivasi. Mereka, bagiku, layaknya oase di tengah gurun. Aku yang mendapatkan nilai sangat buruk pada semester 4 akhirnya bisa menjalani kuliah selanjutnya berkat dorongan teman-temanku selama kuliah. Teman sejati memang hadir bahkan ketika kesulitan melanda, bukan saja yang hadir menyapa saat bahagia. Pelajaran demi pelajaran yang dipetik selama kuliah di Bulaksumur bersama mereka juga berarti pelajaran kehidupan: Jangan menunda, jangan malas dan jangan takut. Pun begitu, ketika melihat satu demi satu mereka menunjukkan mekar serta wanginya, semakin semangatlah aku. Mereka saat ini banyak berprestasi di bidangnya, sebagai seorang PNS yang mengabdi pada negara, bekerja di perusahaan ternama, membuka usaha sendiri, ada pula yang sukses sekolah di luar negeri lalu conference ke berbagai belahan dunia dan tak ketinggalan sukses sebagai ibu rumah tangga. Entah kenapa, di tengah-tengah dinginnya Canberra kala musim dingin ini aku merasa lebih optimis aku tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman yang juga makin bersinar. Di depan tumpukan materi kuliah Ekonometrika dan Makroekonomi,  aku teringat kebersamaan dengan teman-teman Ilmu Ekonomi 2005 yang selalu menginspirasi, saat-saat di kantin, selasar maupun perpustakaan. Bagaimana kabar? Semoga selalu dalam kebaikan, semoga kita tetap bisa saling menasehati dan menyemangati 🙂

Salam hangat dari kota sepi bernama Canberra

Senin, 24 Juni 2013

signature-pugo

Advertisements

2 thoughts on “10S3E

  1. Ternyata ada yang lebih parah daripada saya yang pernah dapat dua kali nilai E…
    “ada teman dalam kesusahan memang memperingan beban” :p

    Alhamdulillah, meskipun pengalaman pahit, tapi bisa jadi motivasi buat junior-junior bahwa kalo niat & berusaha keras, meski pernah dapat nilai E lebih dari sekali pun ternyata bisa dapat kesempatan lanjut kuliah di luar negeri :))
    dan tentunya tamparan buat diri sendiri kalo nunda, malas, takut itu enggak bangett #NoteToMySelf

    eh entah kenapa kok saya tiba2 keinget “bunga rampai ksai” ya 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s