Saat ini sedang ramai-ramai share tulisan ilmiah mantan presiden mengenai rekam jejak kebijakan dan capaian beliau di masa lalu. Dilingkari, di-highlight dan dikomentari. Sebenarnya, budaya akademis seperti ini juga pernah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin negara maju lainnya. Dari bacaan saya yang terbatas, saya menemukan tulisan menarik dari Barrack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat, yang dimuat di JAMA (The Journal of the American Medical Association). JAMA ini termasuk outlet susah tembus, alias premier league untuk artikel-artikel bidang kesehatan, termasuk public health dan health economics. Bagi yang pernah tembus di JAMA, selain Lancet dan Health affairs, sudah pantaslah dianggap pendekar sakti mandraguna hehehe.

Obama, seperti yang tertulis pada abstrak artikel tersebut, menceritakan apa yang sudah dilakukannya untuk melakukan reform di bidang kesehatan. Meski negara maju, Amerika punya masalah terkait sulitnya akses kesehatan dan proteksi asuransi kesehatan bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Kebangkrutan rumah tangga akibat tidak mampu membayar tagihan rumah sakit juga umum terjadi. Kualitas layanannya meskipun sudah bagus, relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara maju lainnya dalam grup OECD. Itulah kenapa Obama mendorong adanya Affordable Care Act pada awal-awal kepemimpinannya yang akhirnya diteken di tahun 2010. Selanjutnya reform ini sering disebut dengan Obamacare.

Obamacare disebutnya telah berhasil menurunkan jumlah mereka yang tidak mempunyai asuransi kesehatan, meningkatkan akses pada layanan kesehatan, menurunkan risiko finansial dan tingkat kesehatan yang membaik (self-reported). Meski tidak mirip sepenuhnya, Ibu Megawati Soekarnoputri juga pernah mendorong hal serupa melalui Undang-Undang No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial. Walau, pada akhirnya kita tahu baru di tahun 2014 langkah konkrit terlaksana melalui diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta berdirinya BPJS-Kesehatan. (CMIIW).

Selanjutnya, dalam artikelnya tersebut Obama berharap pemerintahan selanjutnya melanjutkan kebijakannya tersebut. Artikel ini terbit di tahun 2016. Jadi tahu kan siapa penerusnya, dan apakah diteruskan hehehe. Yang bisa saya relate, kok ya Pak Obama ini kayak mahasiswa PhD tahun akhir. Baru tancap gas nulis pas akhir-akhir masa jabatan/studi. #curhat

Jadi teman-teman, sudah pantas belum? Ada yang punya kontak/email asistennya Pak Erick? 😁

Rotterdam, 9 Juli 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s