Debut dan Amanah

Sesekali saya posting tentang sekolah ya. Nggak cuman tentang jalan-jalan dan bersepeda 😁 Alhamdulillah, debut, artikel pertama saya (dari tiga paper di disertasi) sudah diterbitkan secara online di peer-reviewed journal yang bisa diakses melalui link berikut:https://academic.oup.com/…/10.1093/heapol/czab015/6291337

Proses dari ide hingga terbit menghabiskan waktu empat tahun. Pengalaman yang sangat berharga buat saya pribadi sebagai peneliti pemula. Makin berpikir bahwa apa yg saya tahu dan bisa belum ada apa-apanya. Artikel inipun pasti masih ada limitasi dan kekurangan. Panjangnya proses ini juga membuat saya empati pada siapapun PhD student yg sedang berjuang lulus. Yok bisa yok.

Tujuan saya posting ini untuk pertanggungjawaban dari amanah, karena saya dibiayai beasiswa dari pembayar pajak Indonesia melalui LPDP. Ini masih sepertiga jalan dan masih harus bekerja keras. Namun, ada baiknya juga saya share juga capaian-capaian kecil. Nyicil. Sebelum nantinya lulus. Jalan masih panjang. Doakan saya ya 💪

Artikel ini lahir dari kontribusi banyak pihak, terutama pembimbing yang sangat sabar 🙏 Istri sebagai pembaca pertama di awal-awal proses juga berjasa memberikan komentar bahasa Inggris saya yg kacau balau. Taklupa teman-teman peneliti lain yang memberikan masukan perbaikan draft. Saya juga banyak dibantu oleh Pusat KPMAK FKKMK UGM melalui Nuffic Project dan staf-staf BPJS-Kesehatan. Semoga artikel ini jadi awalan untuk karya-karya selanjutnya. Semangat-semangat 💪💪💪

Presiden Menulis Karya Ilmiah

Saat ini sedang ramai-ramai share tulisan ilmiah mantan presiden mengenai rekam jejak kebijakan dan capaian beliau di masa lalu. Dilingkari, di-highlight dan dikomentari. Sebenarnya, budaya akademis seperti ini juga pernah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin negara maju lainnya. Dari bacaan saya yang terbatas, saya menemukan tulisan menarik dari Barrack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat, yang dimuat di JAMA (The Journal of the American Medical Association). JAMA ini termasuk outlet susah tembus, alias premier league untuk artikel-artikel bidang kesehatan, termasuk public health dan health economics. Bagi yang pernah tembus di JAMA, selain Lancet dan Health affairs, sudah pantaslah dianggap pendekar sakti mandraguna hehehe.

Obama, seperti yang tertulis pada abstrak artikel tersebut, menceritakan apa yang sudah dilakukannya untuk melakukan reform di bidang kesehatan. Meski negara maju, Amerika punya masalah terkait sulitnya akses kesehatan dan proteksi asuransi kesehatan bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Kebangkrutan rumah tangga akibat tidak mampu membayar tagihan rumah sakit juga umum terjadi. Kualitas layanannya meskipun sudah bagus, relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara maju lainnya dalam grup OECD. Itulah kenapa Obama mendorong adanya Affordable Care Act pada awal-awal kepemimpinannya yang akhirnya diteken di tahun 2010. Selanjutnya reform ini sering disebut dengan Obamacare.

Obamacare disebutnya telah berhasil menurunkan jumlah mereka yang tidak mempunyai asuransi kesehatan, meningkatkan akses pada layanan kesehatan, menurunkan risiko finansial dan tingkat kesehatan yang membaik (self-reported). Meski tidak mirip sepenuhnya, Ibu Megawati Soekarnoputri juga pernah mendorong hal serupa melalui Undang-Undang No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial. Walau, pada akhirnya kita tahu baru di tahun 2014 langkah konkrit terlaksana melalui diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta berdirinya BPJS-Kesehatan. (CMIIW).

Selanjutnya, dalam artikelnya tersebut Obama berharap pemerintahan selanjutnya melanjutkan kebijakannya tersebut. Artikel ini terbit di tahun 2016. Jadi tahu kan siapa penerusnya, dan apakah diteruskan hehehe. Yang bisa saya relate, kok ya Pak Obama ini kayak mahasiswa PhD tahun akhir. Baru tancap gas nulis pas akhir-akhir masa jabatan/studi. #curhat

Jadi teman-teman, sudah pantas belum? Ada yang punya kontak/email asistennya Pak Erick? 😁

Rotterdam, 9 Juli 2021

Selamat Putri KW yang mainnya ORI!


Sumber gambar: Indosport

Impresif. Satu kata yang pas untuk raihan Putri Kusuma Wardani (18 tahun, yang biasa dipanggil Putri KW di Pelatnas Ci-Umbrella) setelah meraih juara di perhelatan Huelva Spain Masters 2021. Kemenangan di ini seperti oase di tengah kekeringan gelar World Tour nomer tunggal putri setelah raihan Fitriani yang juara di Thailand Open di 2019 yang sama-sama berkelas Super 300. Atau lebih jauh lagi, puasa gelar sudah lama berlangsung setelah era keemasan Susi Susanti, Mia Audina dan terakhir Maria Kristin.


Para senior Putri KW seperti Greogria Mariska Tunjung, Ruselin Hartawan dan Fitriani dalam waktu-waktu akhir ini memang belum bisa menunjukkan konsistensi bermain. Gregoria misalnya, ia digadang-gadang bisa mengemban amanah estafet para pendahululunya setelah menang Word Junior Championship 2017 di GOR Among Rogo setelah mengalahkan Han Yue dari China. Namun pada series terakhir, Grego hanya bisa bertahan mentok di Round 1 atau 2. Tekanan kepada pemain memang berat apalagi netizen yang budiman sering berekspektasi tinggi.


Padahal kalau boleh jujur, level senior memang berbeda daripada level junior. Apalagi di nomer tunggal putri, tidak ada pemain yang bisa dibilang dominan. Persaingan di tunggal putri memang keras. Betul jika Tai Tsu Ying (TTY) menduduki ranking pertama dalam kurun waktu yang cukup lama. Akan tetapi selisih nilainya cukup mepet, jika dibandingkan nilai Ganda Putra yang hampir digondol lebih dari dua tahun beruntun oleh Kevin dan Markus. Saat ini selain TTY, ada Carolina Marin (Spanyol) Chen Yu Fei (China), Akane Yamaguchi dan Nozomi Okuhara (Jepang), , Ratchanok Intanon (Thailand) serta PV Sindhu (India) yang saling kejar-mengejar dan langganan Semifinal dan Final di berbagai kesempatan.


Pada laga melawan atlet Denmark, Line Christophersen (21), Putri KW bisa mengendalikan permainan dengan baik. Footwork-nya bisa dibilang nggak keteteran dan selalu siap mengejar bola. Dua hal yang sering jadi kelemahan pemain putri Indonesia dan bikin gemes penonton. Putri juga bisa menempatkan bola dengan baik dan siap main rally. Anti lemes-lemes club. Lawannya juga bukan sembarangan karena merupakan bintang baru Denmark yang baru saja meraih medali perak kejuaran Eropa setelah dikalahkan Carolina Marin di final. Poin plus lainnya, remaja satu ini juga bermain tenang dan tidak terburu-buru. Karakter yang biasanya belum terpupuk di usia remaja.


Kemenangan ini tentu sangat berarti buat putri Indonesia kelahiran Tangerang ini karena merupakan kemenangan world tour series pertamanya. Ia juga menang di stadium yang bernamakan pemain favoritnya, Carolina Marin. Kabarnya, dia ingin bertemu dengan pemain idolanya itu. Semoga kejadian.


Kita berharap kemenangan ini bukan yang pertama dan terakhir untuknya. Winning should be a habit. Walau tantangan di depan akan sulit. Selain para senior, Putri KW di masa-masa yang akan datang juga akan berhadapan dengan pemain-pemain muda lainnya seperti the rising star dari Korea An Se-Young yang masih berusia belasan (19). Pornpawee Chochuwong (23) dari Thailand juga sedang semangat-semangatnya.


All in all, semoga kemenangan ini jadi inspirasi buat senior-senior Putri KW juga, kalau main dengan tenang dan spirit bermain yang tinggi, bisa kok kita menang. Sudah lama lho Badminton lovers Indonesia rindu Piala Uber 🥇🏆Semangat mbak Putri! 💪 Salam tepok bulu! 🏸

Rotterdam, 13 Mei 2021

Melanjutkan Mimpi dan Perjuangan

Sepulang dari membeli groceries dan membuka pintu unit rumah, saya kaget karena di ruang tamu ada empat perempuan. Kok udah penuh aja. Satu dewasa dan tiga anak-anak 🙂

Jujur, saya masih mencoba beradaptasi dengan semakin besarnya jumlah anggota keluarga kami setelah kedatangan Afiya. Saya dan Sari menikah di bulan Januari 2012 setelah sembilan tahun berselang, Kartu Keluarga kami akan berisi lima nama. Itu berarti tanggung jawab saya semakin berat ^^J

Ketika ada yang datang, ada juga sosok penting yang pergi. Bapak Mertua qadarullah terkena COVID-19, lalu virus tersebut memperparah penyakit komorbid lainnya. Meskipun Bapak tidak bersama lagi, beliau meninggalkan mimpi dan perjuangannya kepada kami. Bapak meninggalkan mimpi berupa kemandirian ekonomi dan semangat entrepreneurship dengan merintis usaha Toko Elektronik di kampung halaman, Desa Banjararum Kecamatan Kalibawang Kulon Progo. Bapak juga merupakan seorang pendidik mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai Guru Matematika dan Elektro tingkat SMP di SMPN 1 Samigaluh.

Saya dan Sari sepakat untuk berbagi peran ketika pulang nanti dari Negeri Kincir Angin untuk melanjutkan mimpi dan perjuangan Bapak. Sari menjadi karyawan di Toko Elektronik, meneruskan usaha Bapak dan saya akan mencari kesempatan menjadi pengajar di kampus/universitas di Yogyakarta. Semoga Allah berikan kekuatan dan kesabaran 🙂

Doakan kami yak! (Takeshi Castle mode)

Foto: Dekat kapal SS Rotterdam

Pripun Prospek 2021 Kisanak?

InsyaAllah cerahhhh, nggih. Dipikir alon-alon mawon, Lurrr. Mboko siji digarap. Sek penting sehat bagas waras kabeh sakkaluwarga. Kuwi wis prestasi sing mongkokake. Prasasat nek pit-pitan, le nyetel gear rasah dhuwur-dhuwur, le medal kabotan. Stamina ra cukup. Setel kendo mawon ning ajeg, bar kuwi diundhakke mboko sithik. Nek kebanteren, di-rem, eling nek perjalananmu kui ora dhewekan 😃

Oleh karena itulah mari kita memulai Januari 2021 dengan menikmati self-made kupat sayur (gori aka nangka muda). Hangat, segerrr, renyah, gurihhhh. Semoga tahun 2021seperti itu juga 🙂

Serial ANABEL (Analisis Gembel) : Kompetitif

Menarik sekali penjelasan Kishore Mahbubani, mantan dekan Lee Kuan Yew SGPP NUS, tentang kenapa sih kok China bisa maintain nilai kematian akibat COVID-19 cukup rendah dibandingkan dengan US yang hingga hari ini memakan sekitar 280 ribu korban? Jumlah kematian di US tersebut sangat bisa dihindari apabila pemerintah US sigap menanganinya. Salah satu penjelasannya adalah karena birokrasi pemerintah China yang efektif dan efisien. China, menurut beliau, adalah negara yang sangat meritokratis untuk urusan pemilihan aparatur pemerintah. Beliau melanjutkan bahwa tingkat kompetisi untuk bisa masuk ke dalam pemerintah seperti masuk kerja konsultan ternama seperti Mckinsey atau masuk universitas di Harvard where the smartest and the brightest compete. Bukti dari kecepatan dan ketepatan kebijakan sudah kita lihat sama-sama di awal pandemi. Sekarang mereka sudah mulai bounce back (bahkan jualan vaksin) dan mulai menata perekonomiannya.


Sebaliknya, US masih tertatih-tatih dalam menghadapi COVID-19. Menurut, Kishore, dalam tiga dekade terakhir secara struktural lebih condong ke Plutocracy. Kondisi dimana yang berduitlah yang memiliki kekuatan besar dalam pengambilan keputusan publik. Sehingga pengambilan keputusan lebih banyak berpihak pada pemilik dana besar daripada wong cilik. Seems familiar? Makanya sangat aneh sekali kita melihat bahwa US yang notabene negara dengan fasilitas kesehatan yang baik dan tidak kekurangan tenaga kesehatan yang mumpuni masih saja kelimpungan menghadapi COVID-19.

Pandemi COVID-19 memberikan ujian bagi semua administrasi pemerintahan bagaimana mereka bisa bereaksi terhadap wabah dan turunan masalahnya. Ada yang berhasil ada yang tidak. Ada juga yang bilang, masyarakatnya saja yang ngeyel nggak bisa dikasih tahu. Ada enelnya uga. Perilaku masyarakat memang berpengaruh. Namun, kejelasan rencana, komunikasi yang bisa diterima,dan kelincahan pemerintah ngaruh juga ke respon masyarakat. Jika pemerintah output kebijakannya seperti business as usual atau setengah-setengah, wajar dong kalau respon rakyat biasa juga begitu. Sebagai contoh, bersumber dari lini masa twitter, negara Wakanda Bagian Tenggara menggenjot kegiatan ekonomi dengan mengirim Pi-En-Ais-nya melakukan ‘Jihad’ Penyerapan Anggaran di akhir tahun dengan melakukan perjalanan dinas yang berisiko pada kesehatan. Apakah tidak ada kebijakan lain? Ditambah lagi, makin pedih hati ini mendengar, wong cilik diminta 3M sedangkan pejabatnya dapat 17M. Kasihan sekali negara tersebut 😦


Lalu apakah negara Wakanda Bagian Tenggara tadi bisa makin kompetitif Pi-En-Ais nya? ada cerita (yang tentunya anekdotal), pasca pandemi yang menurut saya menarik. Dengan mulai bergugurannya Start-Up (s) dengan menurunnya permintaan/konsumsi barang dan jasa, maka menjadi Pi-En-Ais adalah salah satu destinasi karir yang menjanjikan pendapatan dan kepastian. Para talenta-talenta terbaik yang sebelumnya wira-wiri di perusahaan swasta mentereng dimana dia bisa ke kantor berkonsep open space dengan berkaos, sekarang ancang-ancang mulai melirik untuk bisa berseragam PDH atau safari 😀 Bagi facebooker di Wakada Bagian Tenggara yang umurnya belum mencapai 35 tahun, masih ada peluang gan! Anda bisa menjadi bagian dari perubahan struktural. Makin banyak pemuda-pemuda kompetitif dan bagus inputnya menjadi Pi-En-Ais semoga dikit-demi sedikit kebijakan menghadapi pandemi lebih baik. COVID-19 bukan yang pertama dan tentu saja bukan yang terakhir.


Solusinya ke depan? Namanya juga Anabel, mohon maaf nggak ada solusi ya gan, cuman mau cerita aja 😀

Memulai GOVLOG: Gowes Njuk Nge-Vlog

Masa Pandemi ini adalah saat mencoba hal yang baru. Sebelumnya, di channel YouTube, saya lebih nyaman hanya mengupload video gambar-gambar, tanpa wajah saya ngomong. Nggak pede di depan kamera 😀 Kok insyekyur banget. Hehehe. Akhirnya saya coba beranikan diri untuk membuat channel dimana saya banyak memberikan narasi dan ngobrol.

Takterasa sudah sekitar 8 bulan pandemi, dan saya baru sadar kalau sudah lama tidak pernah berbicara kepada publik. Ini tidak baik untuk persiapan defense disertasi saya nanti (padahal defense kapan juga belum tahu :D). Makanya melatih bicara di depan kamera sepertinya penting. Apalagi nanti kalau sudah banyak undangan untuk jadi analis di layar kaca. wkwkwk. Wis le ngimpi rasah kesuwen. Nglindur ae. Saya sertakan link Yutub-nya di bawah ya. Mohon bersabar, masih pemula 😀

Pulang Duluan

Sebulan yang lalu saya diberi kesempatan mencoba Gazelle Tour Populair 57 Damesfiets. Sepeda onthel yang mengangkat semangat klasik namun dengan spek modern ini memang yahud. Setelah mencoba sekali jalan sekitar 8 Km, saya bisa bilang sepeda ini adalah sepeda paling enak dan pas dipakai buat saya.

Dari segi handle, suspensi, pedalan dan lain-lain enakkk banget. Tapi perasaan saya ini bisa jadi karena baru nyoba sedikit jenis sepeda. Spektrumnya kurang luas. Maklum mahasiswa. Hehe. Saya seneng pakai yang Dames (ladies) karena kalau yg Heren (gentleman) sering terlalu tinggi plantangan-nya 😀


Nhaaa… sayangnya, sepeda ini harus pulang duluan naik kapal ke Indonesia mendahului empunya, taklain takbukan untuk diniagakan di tempat lain. Seenak-enaknya sepeda, kalah sama tabungan buat SPP sekolah anak 😀

Ikan hiu makan keju. See U 🙂

#FietsReview #SayangAnak

Mas Asdos

Dulu ketika masih semester-semester awal kuliah, saya selalu menganggap asisten dosen adalah mahasiswa dengan tingkat kecerdasan dan kepintaran di atas rata-rata. IPK pasti langitan. Kalau nggak, masak sih Dosen mau hire? Anggapan ini lalu berubah setelah negeri api menyerang. Saya akhirnya jadi asisten dosen, bukan karena pinter, tapi kok ya pas Dosen tersebut sedang butuh dan para kandidat yg IPK nya tinggi-tinggi sedang KKN (Bukan di desa penari lho. Hehe). Jadi kandidatnya tinggal saya. Tapi, di posting ini saya tidak mau cerita tentang itu. Saya mau cerita tentang mas di sebelah saya ini. Mas Anthony.

Kala itu saya ambil mata kuliah Ekonometrika 1. Sebagai anak IPS, subjek yg ada ika-ikanya terasa berat buat saya. Alhamdulillah, Dosennya sangat amat baik mengantarkan kuliah sehingga mahasiswa semangat. Yaiyadong, FEB UGM gitu lho. Hehe. Salah satu sesi kuliah ini menghadirkan kuliah tamu seorang Professor dari US. Prof ini salah satu tim yg bikin software Ekonometrika Gretl. Saya lupa isi sesi itu, yang saya perhatikan prof tersebut ditemani dua asisten dosen. Mas Anthony dan Mas Said Fathurohman (sekarang dosen di UNAIR). Saya menggumam dalam hati melihat mas Thony dan mas Said, wah enak ya jadi asisten dosen, dekat dengan lingkungan akademik dan sumber ilmu. Kayaknya keren gitu 🙂

Entah bagaimana ceritanya, saya yang SKSD bisa kenal dengan mas Anthony dan suatu waktu pernah meng”grebek” (pakai bahasa Atta geledek) pengen tahu apa sih yang dilakukan seorang asisten dosen. Ternyata dari cerita beliau pekerjaannya bisa A sampai Z. Sebagai contoh, waktu itu Mas Anthony diminta membuat resume buku-buku terbaru, yang kemudian bisa dipajang di Perpustakaan. Bu Dosen pengen, mahasiswa-mahasiswa update dengan literatur terkini. Saya diminta bantuin, eh ternyata malah ngrecokin dan banyak nanya karena semua teks dalam bahasa Inggris. TOEFL saya yang cuman 430 tidak banyak membantu 😀

Fast forward, sekarang mas Anthony ternyata tidak mengambil jalur sebagai akademisi. Padahal saya kira bakalan jadi dosen 😀 Saat ini mas Anthony berprofesi sebagai entrepreneur sukses. Justru, keputusan yang diambil menurut beliau mengamalkan Ilmu Ekonomi. “Lah, sakikiy taktakoni, nek dewe sekolah terus duwur-duwur (katakanlah kuwi x) lalu apakah output e (y) akan naik? Lak yho durung mesti tho???” Saya cuman bisa mesem-mesem “Benerrrrr jenengan massss 😀 ”

Pagi hari saat itu sejuk. Pertemuan yang sudah lama tidak terjadi itu menjadi ajang jual-beli cerita dan gosip 😀 Dasar lidah surplus, lambe turah. Ditemani dengan nasi uduk lauk aneka rupa, taklupa kopi hangat menjadikan diskusi takterasa. Biar tidak mengentek-entekkan makanan, saya pamitan karena sorenya harus balik ke Rotterdam. Sampai ketemu lagi Mas Asdos! 🙂

Rotterdam, 16 September 2019

Catatan Hati Seorang Cleaner #2

mas catur

Kemarin cleaner kantoran dengan cleaner sekolahan reuni. Mereka sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu. Mereka ditemani seorang pejabat kementrian perdagangan.

Dalam sebuah chat, sebelum ketemu, sang cleaner kantoran mem-bully cleaner sekolahan dengan kalimat: “resiki sak sekolahan mung 4 jam, kerjo opo bunuh diri yo”. Cleaner sekolahan hanya bisa menjawab “Luwih tepatnya diplekotho!”. “Ning doyan ” si cleaner elit menimpali. “iya juga sih” gumam cleaner kroco dalam hati.

Di Australia, para student … eh cleaner Indonesia (ups), sangat disukai oleh boss-boss atau klien penyewa jasa kebersihan. Klien mereka bisa rumah pribadi, sekolah, perkantoran, kampus universitas dan pertokoan. Para pejuang kebersihan Indonesia terkenal lebih tidak suka complain (di depan boss, entah bergunjing di belakang hehe), tepat waktu dan kerjanya bersih. Intinya penurut  Value ini tidak ada pada para pekerja dari asia timur dan asia selatan. Tahulah darimana.

Setelah para veteran cleaner OZ ini bertemu, obrolan tidak jauh-jauh tentang bebersih. Saya baru tahu bahwa senior saya satu ini juga mengalami perasaan yg sama ketika melihat toilet di kantor atau kampus yg kurang bersih. Kaca penuh debu. Mold di cermin. Wastafel yg tidak kinclong. Tissue toilet habis. Kayak gatel pengen untuk ngerjain. Ada rasa berkecamuk dalam hati. Menggumam, “Sini mas saya aja yg ngerjain” Atau “chemical-nya kurang nih!” Belagu bet yak. Syndrome ini sepertinya belum ada nama. Ada usul?

Selain bercerita pahit dan getir selama menjadi aktivis kebersihan, kita juga membahas pendapatan. Cleaner sekolahan menjadi minder karena cleaner kantoran memiliki superannuation sangat tinggi. Jika superannuation segitu gede, maka berapa totalnya! Duh, jadi pengen balik ke OZ. Haha. Tapi juga ada kabar kurang menggembirakan, perusahaan tempat sang cleaner kantoran sekarang sudah gulung tikar. Padahal dulu bisa banyak menyerap tenaga kerja kita.

Kami berharap semoga keunggulan komparatif para cleaner Indonesia bisa ditingkatkan. Bahkan jika perlu, kita membuka company di OZ agar bisa mengurangi defisit current account kita yg semakin menganga. Semoga 

Jakarta, 30 May 2019

signature-pugo