Serial ANABEL (Analisis Gembel) : Kompetitif

Menarik sekali penjelasan Kishore Mahbubani, mantan dekan Lee Kuan Yew SGPP NUS, tentang kenapa sih kok China bisa maintain nilai kematian akibat COVID-19 cukup rendah dibandingkan dengan US yang hingga hari ini memakan sekitar 280 ribu korban? Jumlah kematian di US tersebut sangat bisa dihindari apabila pemerintah US sigap menanganinya. Salah satu penjelasannya adalah karena birokrasi pemerintah China yang efektif dan efisien. China, menurut beliau, adalah negara yang sangat meritokratis untuk urusan pemilihan aparatur pemerintah. Beliau melanjutkan bahwa tingkat kompetisi untuk bisa masuk ke dalam pemerintah seperti masuk kerja konsultan ternama seperti Mckinsey atau masuk universitas di Harvard where the smartest and the brightest compete. Bukti dari kecepatan dan ketepatan kebijakan sudah kita lihat sama-sama di awal pandemi. Sekarang mereka sudah mulai bounce back (bahkan jualan vaksin) dan mulai menata perekonomiannya.


Sebaliknya, US masih tertatih-tatih dalam menghadapi COVID-19. Menurut, Kishore, dalam tiga dekade terakhir secara struktural lebih condong ke Plutocracy. Kondisi dimana yang berduitlah yang memiliki kekuatan besar dalam pengambilan keputusan publik. Sehingga pengambilan keputusan lebih banyak berpihak pada pemilik dana besar daripada wong cilik. Seems familiar? Makanya sangat aneh sekali kita melihat bahwa US yang notabene negara dengan fasilitas kesehatan yang baik dan tidak kekurangan tenaga kesehatan yang mumpuni masih saja kelimpungan menghadapi COVID-19.

Pandemi COVID-19 memberikan ujian bagi semua administrasi pemerintahan bagaimana mereka bisa bereaksi terhadap wabah dan turunan masalahnya. Ada yang berhasil ada yang tidak. Ada juga yang bilang, masyarakatnya saja yang ngeyel nggak bisa dikasih tahu. Ada enelnya uga. Perilaku masyarakat memang berpengaruh. Namun, kejelasan rencana, komunikasi yang bisa diterima,dan kelincahan pemerintah ngaruh juga ke respon masyarakat. Jika pemerintah output kebijakannya seperti business as usual atau setengah-setengah, wajar dong kalau respon rakyat biasa juga begitu. Sebagai contoh, bersumber dari lini masa twitter, negara Wakanda Bagian Tenggara menggenjot kegiatan ekonomi dengan mengirim Pi-En-Ais-nya melakukan ‘Jihad’ Penyerapan Anggaran di akhir tahun dengan melakukan perjalanan dinas yang berisiko pada kesehatan. Apakah tidak ada kebijakan lain? Ditambah lagi, makin pedih hati ini mendengar, wong cilik diminta 3M sedangkan pejabatnya dapat 17M. Kasihan sekali negara tersebut 😦


Lalu apakah negara Wakanda Bagian Tenggara tadi bisa makin kompetitif Pi-En-Ais nya? ada cerita (yang tentunya anekdotal), pasca pandemi yang menurut saya menarik. Dengan mulai bergugurannya Start-Up (s) dengan menurunnya permintaan/konsumsi barang dan jasa, maka menjadi Pi-En-Ais adalah salah satu destinasi karir yang menjanjikan pendapatan dan kepastian. Para talenta-talenta terbaik yang sebelumnya wira-wiri di perusahaan swasta mentereng dimana dia bisa ke kantor berkonsep open space dengan berkaos, sekarang ancang-ancang mulai melirik untuk bisa berseragam PDH atau safari 😀 Bagi facebooker di Wakada Bagian Tenggara yang umurnya belum mencapai 35 tahun, masih ada peluang gan! Anda bisa menjadi bagian dari perubahan struktural. Makin banyak pemuda-pemuda kompetitif dan bagus inputnya menjadi Pi-En-Ais semoga dikit-demi sedikit kebijakan menghadapi pandemi lebih baik. COVID-19 bukan yang pertama dan tentu saja bukan yang terakhir.


Solusinya ke depan? Namanya juga Anabel, mohon maaf nggak ada solusi ya gan, cuman mau cerita aja 😀